28 February 2021, 21:05 WIB

Mengintip Sakuraku Di Lembah Bukit Pereng


Anis Septiani, Guru SDN Ciandong, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, Fasilitator Program Pintar Tanoto Foundation | Humaniora

LITERASI merupakan salah satu kompetensi yang penting bagi anak, karena sering dikaitkan dengan kemampuan baca tulis. Meskipun pada kenyataannya mencakup berbagai konteks dalam kehidupan manusia.

Kondisi berliterasi siswa di masa pandemi sungguh memprihatinkan, sehingga menjadi masalah besar bagi kita. Selama pandemi, anak-anak mulai melupakan buku bacaan dan beralih ke gawai. Ditambah akses ke perpustakaan sekolah dimana merupakan salah satu tempat berliterasi anak juga terbatasi. Selama pandemi, anak-anak hampir tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan sekolah yang menjadi tempat favorit mereka untuk membaca. 

Rendahnya budaya literasi selama pandemi didukung oleh survei yang dilakukan oleh progam PINTAR Tanoto Foundation 2020. Berdasarkan hasil survei pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan aplikasi pemantauan sekolah (APS), diketahui bahwa budaya baca selama pandemi berada pada zona merah. Selama pandemi, guru jarang mengajak anak untuk membaca buku bahkan cenderung mengabaikan kegiatan berliterasi. 

Berawal dari keprihatinan tersebut, saya berupaya membangkitkan kembali budaya literasi selama masa pandemi covid-19. Caranya dengan merancang kegiatan untuk menghidupkan kembali kecintaan membaca serta menciptakan budaya berliterasi siswa di rumah.

Program ini diterapkan pada siswa di SD Negeri Ciandong, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. SD Negeri Ciandong merupakan sekolah desa yang terletak di Lembah Bukit Pereng. Solusi saya terapkan ini terbilang cukup unik untuk membangkitkan budaya literasi siswa selama masa pandemi. Cara unik ini bernama Sakuraku. 

Sakuraku merupakan kependekan dari Satu Koin Bersama untuk Buku. Sakuraku adalah kegiatan pengumpulan koin oleh siswa untuk membeli buku bacaan sebagai bahan literasi membaca di rumah. Setiap harinya, siswa menyisihkan uang jajan mereka yang kemudian dimasukkan ke dalam lumbung Sakuraku. Koin-koin yang telah terkumpul, kemudian dibelikan buku bacaan sebagai bahan berliterasi mereka selama pandemi.

Awalnya tidak mudah memang dalam mewujudkan program ini. Perlu adanya kedisiplinan dan komitmen dari siswa untuk menyisihkan uang mereka setiap hari. Diperlukan juga kerja sama dari orang tua untuk memotivasi anak dalam menyisihkan uang. Setiap hari saya ingatkan siswa agar dapat konsisten mengisi lumbung Sakuraku. Saya menyemangati siswa, bahwa nantinya mereka dapat menciptakan perpustakaan sendiri dari buku bacaan yang dimiliki. Dengan begitu, mereka tidak usah khawatir kekurangan akses membaca selama masa pandemi. 

Setiap satu bulan sekali, lumbung Sakuraku dibuka oleh siswa. Kemudian siswa menghitung perolehan uang mereka masing-masing. Seluruh uang siswa kemudian dikumpulkan menjadi satu dan dibelikan buku bacaan secara kolektif. Mereka bahu-membahu membeli buku bacaan demi terciptanya budaya baca dimasa pandemi. Saya menegaskan, meskipun jumlah uang yang mereka kumpulkan berbeda-beda, buku ini menjadi milik bersama. Mereka boleh saling meminjam dan membaca buku miliki teman mereka. Sehingga mereka dapat membaca lebih banyak buku bacaan di rumahs.

Karena masih dalam masa pandemi, siswa membeli buku bacaan secara daring di marketplace (situs belanja online). Saya mengenalkan mereka cara berbelanja secara daring, cara mencari toko di marketplace, dan cara bertransaksi melalui sistem transfer. Semua ini merupakan hal yang baru bagi mereka. 

Meskipun belanja daring terlihat sederhana, ternyata banyak siswa SD Negeri Ciandong yang belum pernah melakukannya. Siswa sangat antusias ketika diajak memilih buku bacaan yang mereka sukai secara online. Saat berbelanja daring, mereka belajar untuk memilih buku bacaan yang baik, mengatur uang saat belanja, dan menghitung total belanjaan sendiri. 

Setelah itu, saya fasilitasi siswa untuk melakukan pembayaran transfer di agen transfer terdekat. Melalui program Sakuraku, secara tidak langsung siswa diajak mengaplikasikan berbagai kompetensi literasi yang dimiliki dalam kehidupannya. Meliputi literasi membaca, numerasi, finansial, dan digital.

Seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitu pula dengan buku-buku yang mereka miliki. Tak terasa, selama pandemi anak-anak telah memiliki beberapa buku bacaan sendiri di rumah. Walaupun jumlahnya belum memenuhi standar perpustakaan, tapi mereka bersemangat untuk terus mengumpulkan koin dan membeli buku bacaan sendiri.

Meskipun sekolah kami termasuk sekolah terpencil, jauh dari keramaian, dan keterbatasan fasilitas seperti sinyal internet, kami tetap bersemangat untuk menghidupkan budaya literasi. Siswa SD Negeri Ciandong berkomitmen untuk terus melaksanakan Sakuraku. Mereka bercita-cita mengumpulkan sebanyak mungkin buku dan membuat taman baca di rumah mereka masing-masing. Dengan begitu, mereka dapat terus menyebarluaskan manfaat kepada orang banyak.

Anis Septiani, Peserta Peningkatan Skill Menulis bagi Tenaga Pengajar Se-Indonesia

BERITA TERKAIT