23 February 2021, 16:49 WIB

Teknologi Myopia Control Care Atasi Miopia Secara Komprehensif


Eni Kartinah | Humaniora

PREVALENSI miopia atau rabun jauh atau bisa juga disebut mata minus terus meningkat. Seiring dengan pandemi Covid-19 memberi pengaruh pada penambahan kasus miopia.

Temuan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia)  menyebut bahwa  sekitar 40% dari populasi dunia atau 3,3 miliar orang akan menderita miopia pada 2030 mendatang.

Bahkan, akan mencapai lebih dari setengah populasi dunia (4,8 miliar orang) pada 2050. Lebih-lebih saat ini, situasi pandemi Covid-19 turut berandil meningkatkan kasus miopia, termasuk pada anak-anak.

Studi di Tiongkok  baru-baru ini memperlihatkan, bahwa selama 2020, anak usia 6-8 ternyata tiga kali lipat lebih rawan terkena miopia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lebih sedikit waktu di luar ruangan dan lebih banyak waktu menatap layar menjadi pemicu.

“Di samping genetik, faktor risiko miopia lainnya adalah gaya hidup. Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 mengubah perilaku masyarakat. Aktivitas di luar ruangan jauh berkurang, sementara kelekatan terhadap gawai berlayar semakin tinggi,” papar dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Ketua Layanan JEC Myopia Control Care kepada wartawan, Senin (23/2) .

“Anak-anak belajar jarak jauh secara daring, sedangkan kelompok dewasa juga bertumpu pada gadget untuk bekerja dan bersosialisasi. Artinya, semua kalangan usia semakin berpotensi terserang miopia,” jelasnya.

Namun kini beruntung terdapat layanan terbaru Myopia Control Care yang menghadirkan penanganan mata minus secara menyeluruh berdasarkan tingkatan kebutuhan pasien.

“ Myopia Control Care memudahkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan penanganan miopia secara menyeluruh,” ujar dr. Gusti G. Suardana, SpM(K) dari JEC Eye Hospitals & Clinics  Jakarta.

Menurut  dr.Gusti, pasien akan memperoleh perawatan yang tepat berdasarkan kondisi miopia yang diderita, serta sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ia menjelaskan miopia bukan saja membuat penderitanya tak nyaman ketika beraktivitas, jika tidak segera diatasi.

“Miopia bisa menyebabkan komplikasi lanjutan seperti mata malas, katarak, glaukoma, dan retina lepas. Bahkan, sampai kebutaan,” jelasnya.

Memang, gejala miopia yang terkesan remeh di antaranya  sering memicingkan mata saat melihat, kesulitan memandang jauh ketika berkendara, sering mendekatkan mata ke layar televisi atau ponsel, mata terasa lelah dan tegang, serta kerap mengucek mata) patut diwaspadai.

“Pemeriksaan mata secara berkala minimal 6-12 bulan sekali menjadi kunci,” tegas dr.Gusti mengingatkan.  

Sementara itu, dr. Damara Andalia, SpM selaku Wakil Ketua JEC Myopia Control Care, mengatakan ,” Myopia Control Care mengedepankan integrasi antar sub-spesialis mata di JEC.”

“Artinya, pemeriksaan dan penanganan terhadap pasien, baik yang sudah menderita miopia ataupun berpotensi mata minus, meliputi seluruh aspek mata,” jelasnya.

“Dari sisi teknologi, layanan ini juga diperkuat alat diagnostik termutakhir: Pentacam® AXL, yang mampu mengukur seluruh data organ mata, seperti panjang bola mata, keadaan kornea dan ketebalan lensa,“ katanya.

Menurut dr.Damara, dengan gabungan expertise dan teknologi serta  melalui layanan Myopia Control Care, pasien akan mendapatkan pilihan dan rekomendasi tindakan lanjutan yang cermat guna mencegah progresivitas miopia mereka. (Nik/OL-09)

 

BERITA TERKAIT