23 February 2021, 12:30 WIB

Big Data dan AI Jadi Tren, Tantangan bagi Perguruan Tinggi


Faustinus Nua | Humaniora

DALAM rangka mempersiapkan  para dosen, pendamping dan asisten kompetensi untuk menciptakan talenta kecerdasan buatan (AI) secara masif di seluruh Indonesia, pada Senin, 22 Februari 2021, Kemendikbud melaksanakan pelatihan Microcredential Certification Bidang Data Science dan Artificial Intelligence (AI).

Pelatihan ini dilaksanakan dalam 5 hari mulai 22 hingga 26 Februari 2021 secara daring dengan metode synchronous dan asynchronous. Selanjutnya akan dilaksanakan evaluasi dalam bentuk ujian pada 1 Maret 2021.

Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam menjelaskan, kegiatan ini merupakan Training for Trainer (ToT) dalam melaksanakan microcredential certification, program yang bertujuan untuk menciptakan talenta AI di seluruh Indonesia dengan cara melakukan sertifikasi kepada para mahasiswa.

Seberapa penting kecerdasan buatan ini? Nizam mengatakan, ekonomi dunia telah bergeser ke timur dengan Asia menjadi sumber kebutuhan ekonomi dunia. Ini membuka peluang pada industri big data untuk berkembang dan perguruan tinggi harus bersiap menyambut era yang kompetitif ini.

“Ke depan ekonomi kita tidak bisa hanya mengandalkan ekonomi berbasis sumber daya, maupun efisiensi tenaga kerja, tetapi ke depan akan lebih dibutuhkan ekonomi berbasis inovasi,” katanya, Selasa (23/2).

Teknologi informasi telah mendorong masyarakat pada smart society yang membawa kita pada era baru big data dan menjadi peluang kebangkitan ekonomi Indonesia di masa depan. Untuk itu, pengetahuan dan kemampuan untuk mengolah data menjadi informasi menjadi amat penting.

Big data adalah kumpulan data yang sangat besar volumenya, namun tumbuh secara eksponensial seiring berjalannya waktu. Ini adalah data dengan ukuran dan kompleksitas yang begitu besar sehingga tidak ada alat manajemen data tradisional yang dapat menyimpan atau memprosesnya secara efisien.

Era big data dan kehadiran teknologi AI melahirkan disrupsi, dengan kemungkinan hilangnya puluhan juta pekerjaan. Semua akan digantikan oleh otomasi dalam 10 tahun ke depan karena munculnya revolusi industri 4.0 . Di sisi lain, akan hadir peluang 2 kali lipat lebih banyak pekerjaan yang berbasis dengan kompetensi baru inovasi dan kreativitas yang lahir selama 10 tahun ke depan ini.

"Ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan lulusan yang lebih adaptif, lebih kreatif yang didasari dengan digital literasi dan complex problem solver yang kuat," tambahnya.

Saat ini, Nizam melanjutkan, di Indonesia ekonomi digital membawa lompatan besar, seperti 5 dari 10 unicorn di ASEAN lahir dan besar dari Indonesia. Inilah fakta bahwa kreativitas anak bangsa dahsyat sekali, dalam mengawinkan penguasaan teknologi digital khususnya bidang artificial intelligence dan menjadi satu peluang yang sangat besar untuk mengangkat Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi dalam waktu yang tidak lama.

Melalui semangat Kampus Merdeka, katanya, pemerintah memberikan banyak jalan bagi mahasiswa dalam menciptakan kreativitas. Pemerintah selalu mendukung dan memfasilitasi mahasiswa yang benar-benar berprestasi.

Dalam pelatihan Microcredential Certification Bidang Data Science dan Artificial Intelligence (AI) yang digelar Kemendikbud selama lima hari ke depan itu, Sekretaris Dikti, Paristiyanti Nurwardani melaporkan total peserta yang hadir dari PTN sebanyak 511, PTS sebanyak 1.933, Perguruan Tinggi Agama 4 orang, dan Perguruan Tinggi Kementerian Lain 2 orang.

"Para dosen dalam kegiatan bagi mahasiswa ini bisa diakui menjadi 20 sks, karena kegiatan ini menjadi salah satu program Kampus Merdeka," katanya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT