22 February 2021, 23:00 WIB

Mengajarkan Toleransi Sejak Dini


Lili Gusni, Guru UPTD SDN 28 Indrapura, Air Putih, Batu Bara, Sumut, Fasilitator Program Pintar Tanoto Fondation | Humaniora

PANDEMI covid-19 yang masih belum ketahuan kapan berakhir, memberikan banyak arti bagi kita. Tidak dipungkiri bahwa pagebluk ini menimbulkan persoalan serius di segala lini kehidupan. Tapi tak bisa dipungkiri kalau pandemi bisa memberikan pembelajaran.

Begitu juga dengan proses belajar mengajar, terasa betul dampak bagi pengajar dan anak didik. Justru di situlah butuh kreativitas untuk mengatasinya. Di daerah kami Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara banyak berdomisili etnis Melayu, Jawa, dan Batak. Orang Mandailing merupakan sub-etnis Batak yang paling banyak bermukim di sini. Etnis Jawa atau yang dikenal dengan Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatra) mencapai 43% dari keseluruhan penduduk Batu Bara. 

Seperti juga daerah lain, di tempat kami pun juga terkena dampak pandemi. Kepada para siswa diajarkan untuk menjaga kesehatan dan juga bagaimana menerapkan protokol kesehatan agar terhindar dari virus mematikan ini. Selain itu, yang tak kalah penting adalah bagaimana mengajarkan penerapan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam lingkungan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) SDN 28 Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, banyak anak didik dari beragam suku dan agama. Tapi dalam proses belajar mengajar tidak ada persoalan terkait keberagaman itu. Tak ada yang dibedakan. Mereka sejak dini sudah diajarkan bertoleransi dan saling menghargai akan perbedaan yang ada. 

Terutama di kelas IV (empat) ada agama Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, dan Buda, semua diberi izin untuk memenuhi kebutuhan religinya. Bahkan tidak adanya pemaksaan untuk memakai seragam mengikuti agama yang mayoritas di sekolah. Contoh lain dalam bertoleransi saat orang tua anak didik yang meninggal dan beragama kristen, seluruh keluarga besar UPTD SDN 28 Indrapura mendatangi rumah dan turut berduka cita. Namun tetap mematuhi protokol kesehatan.

Tentu semua ini dilakukan untuk melawan intoleransi. Di lingkungan sekolah terus dilakukan sosialisasi dan penguatan karakter melalui profil Pancasila, baik terhadap guru maupun murid. Jadi, melawan  intoleransi itu memang harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

Respons gercep (gerakan cepat) dengan pengumuman Keputusan Bersama Tiga Menteri tentang penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah Yang Diselengarakan Pemerintah Daerah Pada Jenjang Pendidikan Dasat dan Menengah, Rabu (3/2/2021), bisa dibilang sudah lebih dulu kami lakukan. 

Mendidik toleransi tak hanya lewat kata tapi juga harus berwujud nyata. Langkah ini diambil agar kelak tidak terjadi peristiwa intoleransi di tempat kami. NKRI harus tetap utuh dan menghasilkan generasi emas, unggul kreatif dan berinovatif, serta cerdas berkarakter. (O-2)

Lili Gusni, Peserta Peningkatan Skill Menulis bagi Tenaga Pengajar Se-Indonesia

BERITA TERKAIT