22 February 2021, 04:20 WIB

Survei: 41% Masyarakat Masih Kurang dan Tidak Bersedia Divaksin


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

DIREKTUR Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengungakpkan hasil survei lembaganya menunjukan, 41% masyarakat kurang bersedia dan sangat tidak bersedia menerima vaksinasi Covid-19

"Yang menggagetkan saya secara pribadi, meskipun surveinya sudah dilakukan setelah presiden sendiri langsung menjadi orang pertama yang divaksin, itu masih banyak yang tidaj bersedia totalnya 41% (dari survei Desember 43%)," kata Burhanuddin Muhtadi dalam rilis survei indikator bertajuk siapa enggan divaksin? Tantangan dan Problem Vaksinasi Covid-19 Minggu (21/2).

Secara total soal kesediaan warga untuk divaksinasi, yakni hanya 54,9% yang bersedia, sangat bersedia sebesar 15,8% dan cukup bersedia 39,1%. Yang kurang bersedia ada 32,1%, dan sangat tidak bersedia adalah 8,9%, tidak jawab yakni 4,2% sehingga totalnya 41%.

"41% di 1-3 Februari itu bukan angka yang kecil. Ini bisa jadi masalah, karena vaksinasi pada dasarnya bicara untuk kepentingan bersama," jelasnya.

Dari kelompok yang menyatakan kurang dan tidak bersedia untuk divaksin, sebanyak 54,2% beralasan tidak bersedia karena kemungkinan timbulnya efek samping vaksin. Kemudian 27,0% mengaku tak bersedia karena vaksin dinilai tak efektif mencegah Covid-19.

"Ada 23,8% masyarakat yang mengaku tak membutuhkan vaksin, alasannya karena tubuhnya merasa sehat. Ada 17,3% tidak mau membayar vaksin dan 10,4% menyatakan vaksin mungkin tidak halal," ujarnya.

Selanjutnya ada 5,9% menganggap banyak orang yang akan mendapatkan vaksin sehingga dia tidak butuh vaksin dan 3,1% tidak mau terlibat persekongkolan perusahaan farmasi yang membuat vaksin.

Baca juga : Kemenkes: Tak Ada Laporan Gejala Berat Usai Vaksinasi

Survei juga menemukan bahwa yang percaya efektivitas vaksin dalam mencegah tertular virus korona sekitar 53,5% responden, yang tidak percaya sekitar 30,3%, dan selebihnya tidak bisa menilai atau tidak menjawab 16,3%.

"Tingkat kepercayaan publik terhadap berbagai varian vaksin corona tampak rendah, secara umum lebih banyak yang kurang percaya," paparnya. 

Indikator juga melakukan analisa bivariate, dimana secara umum mayoritas warga bersedia untuk diberi vaksin Covid-19 di hampir semua basis demografi, kecuali kelompok usia 22-25 tahun dan kelompok pendidikan SLTP.

"Tapi ada kecenderungan warga yang bersedia divaksin lebih rendah pada kelompok perempuan, usia semakin muda, kalangan muslim, orang pedesaan, kelompok pendidikan dan pendapatan yang semakin rendah," jelasnya.

Dia menegaskan, pihak berwenang harus lebih memiliki keberanian terkait dengan penanggulangan pandemi. Jika vaksin merupakan harapan puncak agar persoalan ini bisa semakin cepat tuntas, maka isu-isu yang membuat publik ragu harus bisa dipastikan. Vaksin efektif, efek samping vaksin sangat minim, halal, dan gratis.

"Tapi jika hal tersebut tidak bisa dipastikan, harus ada penjelasan yang lebih menentramkan kepada publik. Physical distancing bisa dengan cepat berubah menjadi psychological distancing, antar warga kerap saling curiga, sehingga ikatan kewargaan menjadi semakin rapuh," pungkasnya.

Survei tersebut dilakukan pada 1 hingga 3 Februari 2021 dengan 1.200 responden menggunakan metode simple random sampling. Penelitian ini memiliki toleransi tingkat kesalahan atau margin of error plus minus 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%. (OL-7)

BERITA TERKAIT