21 February 2021, 08:15 WIB

Jejak Tan Malaka Kian Meredup di Pandam Gadang


Rudi Kurniawansyah | Humaniora

MENTARI pagi bersinar lembut saat Media Indonesia menyusuri sepanjang 50 Kilometer (Km) Jalan Tan Malaka, yang merupakan jalan provinsi terpanjang di Sumatra Barat (Sumbar), akhir pekan lalu. Jalan yang lurus ini melintang dari Jalan Lintas Riau Sumbar di Kota Payukumbuh hingga tembus ke rumah masa kecil pahlawan nasional Ibrahim Datuk Tan Malaka di daerah perbukitan terpencil di pelosok Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Suasana khas perkampungan tersaji indah di sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar 1 jam lamanya dari jalan lintas. Udara dingin perbukitan yang sejuk berpadu dengan warna hijau dan kuning hamparan persawahan. Hiruk pikuk kesibukan dan lalu lintas kendaraan masyarakat setempat pun berlangsung ramah dan tertib tanpa serba terburu-buru seperti di perkotaan. Padahal akses utama keluar masuk di daerah pelosok ini hanya satu melalui Jalan Tan Makaka tersebut.

Memasuki wilayah Nagari Pandam Gadang, tampaklah perbukitan yang sangat indah mengelilingi lembah areal persawahan. Jalan utama semakin mengecil seakan membelah persawahan hijau yang hanya berbatas bukit-bukit di kiri kanannya. Pemukiman perkampungan penduduk di daerah ini terdapat pada lereng-lereng bukit yang konon sudah berdiri lama jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Melihat langsung asal kampung dari sosok Tan Malaka yang merupakan konseptor Republik Indonesia melalui bukunya Naar de Republik Indonesia pada 1925, tak terbayang bagaimana tangguhnya saat anak belia usia 11 tahun meninggalkan rumahnya di desa yang sangat terpencil untuk bersekolah di Kweekschool (sekolah guru negara/sekolah raja) di Fort de Kock, Bukittinggi. Meski tergolong pintar namun Tan Malaka kecil yang menguasai beladiri silat dan penghafal hafiz Al-Quran juga dikenal bandel susah diatur.

Tan suka menghabiskan waktu bermain sepak bola. Ia pun tergabung dalam orkestra di sekolah raja yang dulu hanya bisa dimasuki oleh anak keturunan bangsawan. Di sekolah guru ini juga tokoh militer Indonesia Jenderal Besar Abdul Haris Nasution pernah menuntut ilmu.

Adalah Gerardus Hendrikus (GH) Horensma, salah satu guru di sekolahnya itu yang melihat kecerdasan Tan Malaka kecil. Horensma menyarankan agar Tan melanjutkan bersekolah Rijks Kweekschool (sekolah pendidikan guru negeri) di Haarlem, Belanda.

Bermodalkan dana pinjaman dari para Engku di kampungnya ditambah bantuan beasiswa yang diurus GR Horensma, Tan Malaka yang dikenang juga sebagai penggagas Sarekat Islam (SI) School yang kemudian menjadi Sekolah Rakyat (SR) cikal bakal Sekolah Dasar Negeri (SDN) dengan seragam merah putih itu kemudian pada Oktober 1913 merantau meninggalkan rumahnya pergi ke Belanda. Setelah itu sosok legenda ini hampir tak pernah pulang lagi ke Pandam Gadang. Tan yang menguasai sedikitnya enam bahasa asing dengan 23 nama samaran diketahui melalang buana ke berbagai negara dengan total menempuh perjalanan sekitar 39 ribu Km.

Menyusuri perkampungan Pandam Gadang yang berada di lereng perbukitan, kendaraan harus ekstra hati-hati. Jalan semen yang kian mengecil dengan alur yang naik turun dan berbelok-belok akan bisa membahayakan apabila tidak hati-hati. Setelah suatu persimpangan, terdapat jalan mendaki yang selanjutnya pada sisi kiri terpampang tanda yang tertempel di rumah bercat putih arah menuju rumah kelahiran atau museum Tan Malaka.

Situs cagar budaya museum Tan Malaka atau rumah kelahirannya berada terasing dari deretan rumah pemukiman warga lainnya. Akses jalan tanah menuju rumah tua beraksitektur rumah adat minang kabau dengan lima buah gonjong terbuat dari seng. Bangunan rumah pada bagian depan terbuat dari papan kayu bercat biru berpadu merah muda dan garis putih di jendela. Pada dinding sekeliling rumah berupa anyaman bambu.

Rumah itu kecil berukuran sekitar 8 x 15 meter berbentuk panggung. Pada bagian depan berkibar bendera merah putih. Sedangkan pada sisi kanan terdapat patung wajah Tan Malaka yang disumbangkan oleh politisi Fadli Zon, saat menjabat Wakil Ketua DPR RI. Sekeliling halaman rumah rimbun tanaman dan sejuk. Terdapat kolam ikan dan Mesjid Jami tidak jauh dari rumah itu dengan aneka tanaman dan pepohonan nyiur kelapa menghiasi di sekitarnya.

Adapun pada sisi depan halaman rumah terdapat tiga makam yaitu Ibrahim Datuk Tan Malaka di tengah tertulis nisannya lahir di Pandam Gadang pada 1894, wafat di Kediri, Jawa Timur 21 Februari 1949, dan dimakamkan ulang pada 1 Maret 2017 di Pandam Gadang. Tahun kelahiran pada batu nisan itu sedikit berbeda dari referensi yang mencatat kelahiran Ibrahim Datuk Tan Malaka pada 2 Juni 1897. Sedangkan makam Rangkayo Sinah, di kiri serta makam H.M Rasad Bagindo Malano pada sisi kanan, yang keduanya merupakan ibu dan ayah dari Tan Malaka.

Meskipun telah ditetapkan sebagai cagar budaya ditambah lagi status sebagai pahlawan nasional sesuai Kepres No. 53 tahun 1963, kondisi rumah kelahiran Tan Malaka amat memprihatinkan. Media Indonesia hanya menjumpai tiga anak kecil yang sedang bermain-main di halaman dan menjaga rumah keluarga yang telah dijadikan museum sejak 1998 itu. Ketiga anak kecil yang masih berkerabat dengan Tan Malaka itu bernama Zul, Anggi, dan Fahri.

"Kami sedang libur karena pandemi Covid-19. SD kami tak jauh dari sini. Itu di bawah (bukit)," tutur Anggi yang berjilbab coklat.

Daun pintu rumah terbuat dari kayu dan pintu tidak terkunci gembok. Masuk ke dalam rumah suasana gelap gulita. Kondisi kurang penerangan juga masih terasa walaupun lampu rumah telah dinyalakan.

Saat kaki menginjakkan lantai rumah kayu itu terdengar suara berderit-derit tanda lapuk dan keropos. Pada ruangan depannya tersedia meja dengan buku tamu warna hijau. Buku itu penuh diisi oleh berbagai pengunjung yang telah datang. Kemudian terdapat lemari dan etalase yang memajang buku-buku sumbangan penulis lokal dan sejumlah buku agama Islam. Terselip juga beberapa karya besar Tan Malaka seperti Madilog, Gerpolek, dan Dari Penjara ke Penjara.

Memasuki ruangan utama dibatasi pintu dengan hiasan gorden merah putih. Hiasan merah putih itu juga melingkupi seluruh bagian jendela rumah. Di samping pintu masuk, terpajang foto-foto berwarna peneliti Tan Malaka berkebangsaan Belanda Harry Poeze pada suatu acara tahun 2005 di halaman rumah tersebut. Di dalam terlihat sejumlah pajangan foto-foto hitam putih Tan Malaka di dinding kayu rumah. Sebagian besar foto itu sumbangan dari kerabat dan pengagum Tan Malaka. Material foto-foto itu bukan asli tetapi hanya kertas HVS hasil fotokopi dari foto aslinya. Selain itu terdapat juga foto ayah dan ibunya beserta uraian garis keluarga, serta sebuah lukisan wajah Tan Malaka hasil karya A Munaf.

Pada pojok kanan ruangan terdapat tempat tidur, lemari kayu, dan koper tua keluarga Tan Malaka. Di sebelah kiri bawah ada etalase berisikan buku-buku tidak tersusun rapi yang di atasnya ada sebuah foto Tan Malaka berpakaian jas resmi bersama teman-temannya berparas Eropa di luar negeri. Di atasnya terpajang foto Tan Malaka bersama Jenderal Besar Sudirman yang keduanya pernah berhimpun dalam front Persatuan Perjuangan untuk Indonesia merdeka 100 persen. Kemudian foto dan kutipan dari pahlawan nasional yang juga ketua SI Agus Salim serta foto dan kutipan ulama Buya Hamka.

Di atasnya terpajang foto Presiden Sukarno bersama Tan Malaka yang kala itu diketahui baru saja membuka identitasnya dari nama samaran Ilyas Hussein, romusha dari Banten. Mereka berdua tengah berjalan berdampingan menuju lapangan
Ikada (Monas) saat rapat akbar kemerdekaan Indonesia September 1945.

Selain itu pada bagian tengah terdapat bagan ranji keturunan dan foto pemegang gelar Datuk Tan Malaka. Saat ini gelar Datuk Tan Malaka telah jatuh ke anak kemenakannya yaitu Hengky Novaron Arsil yang diangkat sejak tahun 2.000 silam. Di bawah ranji dekat tempat tidur ada tersusun seperangkat alat musik tradisional talempong.

Kondisi memprihatinkan dengan bangunan kayu yang lapuk dimakan usia ditambah lagi tidak ada pendamping untuk para pengunjung yang datang membuat rasa ironis. Sedih menyaksikan kurangnya penghormatan Negara terhadap pahlawan nasional Tan Malaka. Apalagi selama lebih 32 tahun, nama tokoh revolusioner yang tulisan-tulisannya dianggap paling berbahaya hingga sangat ditakuti oleh penjajah kolonial ini dihilangkan dari buku sejarah. Padahal buah pikirannya menjadi dasar bagi para pendiri republik termasuk Bung Karno yang selalu membawa buku Aksi Massa karya Tan Malaka.

Stigmatisasi komunis atau PKI yang bersejarah hitam pada 1965 di Indonesia berdampak besar pada Tan Malaka. Ini juga sepertinya menyebabkan orang takut dan menghindar. Apalagi Tan memang pernah menjadi agen komunis internasional (Komintern) untuk Hindia Timur yang meliputi India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Sri Lanka, Maladewa, Thailand, Kamboja, Laos, Brunei, Singapura, Filipina, Timor Leste, Malaysia, dan Indonesia.

Meski dalam sejarahnya, Tan Malaka berulang kali juga mengutuk pemberontakan PKI pada 1926 dan 1948 yang dinilainya prematur dan pengkhianat. Ia akhirnya memilih mendirikan partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak). Pada awal masa pergerakan nasional, Tan Malaka yang mengidolakan HOS Tjokroaminoto, secara lantang mengusulkan Pan-Islamisme dan model pergerakan Sarekat Islam (SI) sebagai cara organisasi paling efektif untuk mengusir kolonialisme di dunia.(OL-13)

Baca Juga: Texas Pulihkan Jaringan Listrik setelah Berhari-hari Gelap Gulita

 

BERITA TERKAIT