20 February 2021, 10:07 WIB

Tim Ahli Identifikasi Penyebab Paus Pilot Terdampar di Madura


Atalya Puspa | Humaniora

PULUHAN ikan paus pilot sirip pendek (short finned pilot whale) atau globicephala macrorhynchus terdampar di pantai sisi selatan Pulau Madura. Tepatnya di Desa Patereman, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, pada Kamis (17/2) lalu. 

Dari 52 ekor yang ditemukan, 3 ekor dalam kondisi hidup dan 49 ekor dalam kondisi mati. Evakuasi dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Timur, setelah berkoordinasi dengan instansi terkait. Rinciannya, BPSPL, PSDKP, Dinas Kelautan, Dinas Pekerjaan Umum, Polairud, kepolisian, TNI, hingga kepala desa. Tim penanganan juga melibatkan FKH Unair.

"Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur pada Jumat pagi, ketika air surut baru terlihat puluhan ekor sudah terdampar di pantai," jelas Kepala Bidang KSDA Wil. II BBKSDA Jatim Wiwied Widodo dalam keterangan resmi, Jumat (19/2).

Tim penanganan dibagi menjadi beberapa regu. Terdiri dari regu pengamanan lokasi oleh TNI dan Polri, tim postmortem oleh 2 orang dokter hewan, 5 asisten dan 1 orang dari BBKSDA Jatim, regu Antemortem terdiri dari 1 orang dokter hewan, serta 1 asisten dan 2 orang dari BBKSDA Jatim. Kemudian, regu penguburan yang dikoordinir oleh kepala desa setempat.

Baca juga: Puluhan Paus Pilot Terdampar

Ikan paus pilot merupakan jenis mamalia laut yang dilindungi undang-undang dan termasuk dalam daftar satwa dilindungi. Secara global, mereka terdaftar dalam Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

"Paus pilot sirip pendek dapat ditemukan di perairan beriklim hangat dan perairan tropis di berbagai penjuru dunia. Umumnya, mereka hidup jauh dari pantai," jelas Wiwied.

Lebih lanjut, Wiwied menyampaikan kegiatan nekropsi belum dapat dilakukan. Dengan pertimbangan agar paus yang hidup dan telah kembali ke laut lepas, tidak kembali lagi akibat pancaran sonar dari paus yang dilakukan nekropsi.

"Pengambilan sonar pada kepala paus untuk mengetahui kondisi sonar apakah dalam keadaan normal, atau terdapat penyakit yang menyebabkan gangguan terhadap sonar," imbuhnya.

Sonar adalah sistem komunikasi dengan suara yang dibuat oleh paus. Itu berguna sebagai petunjuk arah saat mencari makan/makan. Sampai saat ini, regu postmortem masih melakukan pengamatan terhadap paus yang masih hidup. 

Baca juga: Catat, Gunting Limbah Masker Sebelum Dibuang

Adapun regu penguburan telah mempersiapkan alat berat. Lokasi penguburan ditentukan oleh kepala desa setempat dengan pertimbangan dari tim teknis. Kegiatan evakuasi dan penguburan melibatkan masyarakat nelayan setempat.

Penyebab terdamparnya 52 ekor ikan paus, berdasarkan analisa tim dokter hewan, dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, kerusakan sonar pada pemimpin kelompok koloni. Hal ini akan diketahui dari hasil nekropsi paus yang diperkirakan sebagai pemimpin koloni.

Selanjutnya, pengaruh arus yang besar sehingga menyebabkan paus terbawa arus ke pantai. Lalu, adanya jenis plankton yang bersifat racun dan memabukkan paus. Ada kemungkinan paus mengejar mangsa dan memakan ikan yang memakan plankton beracun tersebut. 

Paus mengalami keracunan dan terjebak saat air surut dan tidak dapat kembali ke laut lepas. "Tim akan mengambil sampel air di mana plankton berada dan mencocokan kandungannya dengan hasil nekropsi pada ikan paus. Secara visual, keberadaan plankton di perairan mengubah warna air laut menjadi kemerahan," pungkas Wiwied.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT