19 February 2021, 13:20 WIB

Balitbangkes Biayai Vaksin Nusantara


Faustinus Nua | Humaniora

KEPALA Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan,  Slamet menegaskan, bahwa semua penelitian terkait penanganan covid-19 termasuk vaksin memiliki tujuan yang sama yakni untuk kesembuhan pasien. Lantas Balitbangkes turut ambil bagian dalam penelitian dengan mengembangkan vaksin Nusantara besbasis sel dendritik yang digagas mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

"Kita yang membiayai dari fase I. Seluruh penelitian ini tentu tujuannya sama untuk kesembuhan pasien tetapi tentu kisi-kisinya (basis) berbeda," ungkapnya dalam konferensi pers Penelitian Recovery Universitas Indonesia, Jumat (19/2). Dijelaskannya, sejumlah vaksin yang dikembangakan saat ini menggunakan pendekatan yang berbeda. Ada yang berbasis recombinan, mRNA dan lain-lain.

Pengembangan vaksin covid-19 dengan pendekatan sel dendritik merupakan yang terbaru dan bisa menjadi yang pertama di dunia. "Tapi secara keseluruhan sama tujuannya kesembuhan," tambah dia. Hal ini berbeda dengan yang diungkapkan Peneliti Biomolekuler dari Australian National University (ANU) Dr Ines Atmosukarto bahwa metode itu sudah dikenal sejak 1990-an.

Dekan Fakultas Kedokteran UI, Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa sel dendritik memang menjadi salah satu alternatif pengembangan vaksin. Akan tetapi, hal itu harus melalui berbagai standar yang menjadi syarat seperti uji coba dari fase I sampai fase III. "Informasi mengenai vaksin Nusantara ini kita harus menunggu dari tahapan uji klinis tersebut," kata dia.

Sementara peneliti utama yang mengepalai studi RECOVERY di Indonesia FK UI, Erni Juwita Nelwan mengungkapkan bahwa dendritik sel memang akan teraktivasi pada sebagian besar infeksi virus. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa mendukung upaya penanganan covid-19.

"Tapi kalau kita membuat dendritik sel ini sebagi basic untuk bisa menjadikannya sebagai vaksin saya rasa secara keilmuan ini akan sangat luar biasa sulit dan mungkin bisa jadi mahal itu dari sisi manufactuirng," ujarnya.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) Penny K. Lukito pun menambahkan bahwa vaksin Nusantara sejauh ini baru melaporkan hasil uji coba fase I. Hal itu sedang dievaluasi oleh tim regustrasi dari Badan POM dengan tim ahli untuk kelaikannya.

"Nanti dari evaluasi bisa segera kita keluarkan protokol untuk uji klinis fase II-nya. Karena uji klinis dari fase I-nya baru kami terima," pungkasnya.(H-1)

BERITA TERKAIT