19 February 2021, 10:05 WIB

Klaim Vaksin Nusantara, Ahli Biomolekuler: Buka Data dan Diskusi


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

ADANYA klaim sel dendritik dari Vaksin Nusantara bisa membentuk kekebalan tubuh atau antibodi seumur hidup terhadap covid-19, Peneliti Biomolekuler dari Australian National University (ANU) Dr Ines Atmosukarto menyampaikan bahwa klaim tersebut sebaiknya dibuka datanya untuk didiskusikan dalam forum ilmiah. Apalagi semua pihak mendukung penelitian dan inovasi tetapi yang paling penting adalah transparansi data dan komunikasi.

"Biasanya selesai uji klinis fase satu akan ada laporannya, mungkin bisa didiskusikan? Pernyataan seumur hidup berdasarkan apa sedangkan uji klinis fase satu baru terselenggara berapa bulan? Kok dari data beberapa bulan bisa menyimpulkan seumur hidup sedangkan vaksin yang selesai uji klinis fase 3 aja tidak ada yang membuat klaim demikian," kata dr Ines kapada Media Indonesia, Jumat (19/2).

Pernyataan tersebut disampaikan saat dimintai tanggapan terkait Vaksin Nusantara yang tengah dikembangkan oleh tim mantan Menteri Kesehatan  Terawan Agus Putranto bersama-sama peneliti Universitas Diponegoro dan Laboratorium RSUP Kariadi Semarang serta Aivita Biomedical Corporation Amerika Serikat. Mereka mengklaim Vaksin Nusantara memiliki kelebihan kekebalan lebih lama dibanding beberapa varian antivirus lainnya karena menggunakan basis sel dendritik.

Ines menjelaskan pendekatan vaksin sel dentritik itu membutuhkan proses yang kompleks, fasilitas khusus dan tenaga ahli. Pendekatan ini biasanya dijajaki untuk pengobatan kanker. "Kenapa? Karena untuk pendekatan ini sel dendritik (yang merupakan sel darah putih tugasnya sebagai pasukan pengintai dalam tubuh) harus diambil dari darah pasien (proses ini perlu peralatan, dan membutuhkan waktu) - proses ini namanya leukapheresis," sebutnya.

Direktur Utama Lipotek Australia ini melanjutkan proses uji klinis yang juga lebih disiplin dan merepotkan. Dijelaskan, relawan harus diambil darah putihnya. Setelah itu relawan pulang dalam kondisi belum divaksinasi dan sel dendritiknya diutak-atik di laboratorium. Di sini sel dendritik diperkenalkan dengan antigen.

Langkah berikutnya, dikembalikan (dimasukkan ke tubuh relawan) baru sel dendritik melakukan pekerjaannya untuk mendidik sel T dan membantu sel B membuat antibodi. Lanjut dr Ines, setiap kali vaksinasi relawan harus melalui hal yang sama.
"Kebayang repotnya? Bandingkan dengan proses vaksinasi biasa dimana cukup datang, suntik ke lengan tunggu 30 menit dan pulang," tegasnya.

Menurutnya, dalam kondisi pandemi seperti saat ini yang diperlukan adalah vaksin yang simpel, murah, stabil dan mudah disimpan dan ditransportasi. Bukan pendekatan dengan memerlukan sarana dan tenaga khusus yang hanya ada di tempat tertentu.

Untuk itu Ines mengingatkan semua pihak harus menyadari bahwa tidak semua penelitian sama manfaatnya. Untuk penelitian yang memerlukan partisipasi relawan apalagi relawan orang sehat maka ada kewajiban moral untuk memastikan bahwa penelitian itu manfaatnya jelas, didasarkan kaidah ilmiah yang benar dan bersifat etis. "Penelitian yang berhubungan dengan pandemi penting sekali bersifat transparan dan terbuka karena semua proses pengujian agak lebih cepat diselesaikan," paparnya.(H-1)

BERITA TERKAIT