16 February 2021, 09:40 WIB

Pemerintah Perlu Tingkatkan Upaya Pelacakan dan Identifikasi Genom


Faustinus Nua | Humaniora

ANGKA kasus pasien terinfeksi virus SARS-CoV-2 di Indonesia yang saat ini semakin meningkat, serta ditambah isu munculnya mutasi virus, telah mendorong pemerintah untuk melakukan surveilans atau pengumpulan data yang terus-menerus dan pemantauan terhadap genom virus SARS-CoV-2. Hal itu sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan meluasnya penyebaran covid-19 di Indonesia.

“Memang ada kekhawatiran bahwa varian baru virus SARS-CoV-2 dapat memengaruhi tingkat penyebaran, tingkat keparahan dan juga efek pada vaksin covid-19 yang beredar saat ini. Virus mempunyai kemampuan berkembang dan beradaptasi berdasarkan lingkungannya, dengan rentang akumulasinya 1 sampai 2 mutasi per bulannya,” ujar Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro dalam keterangan resmi, Selasa (16/2).

Dia mengatakan varian baru yang menjadi perhatian utama dari para peneliti Whole Genome Sequencing (WGS) di Indonesia saat ini adalah varian B 1.1.7 atau VOC202012/01 atau VUI202012/01 dari Inggris; varian B 1.351 atau 501Y.V2 dari Afrika Selatan; dan varian B 1.1.28.1 atau P.1 dari Brazil.

Data sementara di Indonesia belum menunjukkan adanya varian baru tersebut, namun masih diperlukan informasi yang lebih mendalam. Surveilans genom dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari varian baru ini, apakah lebih menular sehingga dapat semakin memperburuk kondisi pandemi di Indonesia. Untuk kelancaran surveilans diperlukan koordinasi di tingkat nasional dan global.

“Setelah kita perhatikan dampaknya cukup serius di 3 negara tersebut. Mengingat luasnya jaringan transpor global dan rentannya negara-negara yang relatif terbuka seperti Indonesia, maka pelacakan perlu diperkuat secara intensif untuk mengidentifikasi tipe mutasi virus yang beredar di Indonesia. Meskipun belum ditemukan, namun varian B 1.1.7 sudah dilaporkan di beberapa negara Asia dan Australia, jadi membutuhkan pengawasan yang lebih terintegrasi dan kuat,” terang Menteri Bambang.

Presiden Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) Peter Bogner, menyampaikan tantangan Indonesia dalam melakukan surveilans genom virus SARS CoV-2 adalah pada luasnya wilayah Nusantara dan populasi yang tinggi. Hal ini menyebabkan dibutuhkan waktu dan sumber daya yang besar untuk mengumpulkan data WGS yang lebih banyak dan detail, sehingga masih mungkin varian baru tersebut belum terdeteksi.

“Dibutuhkan usaha bersama pihak pemerintah untuk secara masif mengumpulkan data dengan cakupan yang lebih luas, tidak hanya daerah metropolitan namun keseluruh pelosok untuk mendapatkan data sampel dan gambaran geografi wilayah penyebaran secara baik,” kata Peter.

Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan Slamet mengungkapkan perkembangan yang telah disampaikan Indonesia kepada GISAID sampai 14 Februari 2021 adalah berjumlah 416 sekuens virus, 392 di antaranya merupakan WGS lengkap. Data tersebut dikumpulkan dari 27 provinsi di Indonesia, melibatkan 14 institusi.

"Dalam mengumpulkan data kami mempertimbangkan beberapa hal, pertama tingkat mobilitas orang suatu wilayah karena semakin tinggi mobilitas makin tinggi pula kemungkinan variannya. Kedua tingkat kasus covid-19 di suatu wilayah, secara umum kami melakukan pelacakan dari Aceh sampai Papua,” ungkap Slamet.

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menargetkan sampai kuartal ke-4 tahun ini pihaknya akan berupaya melakukan pemetaan 5000 sampel klinis genom SARS CoV-2. Pemetaan ini diperlukan untuk memahami distribusi pola penyebaran virus, memberikan informasi karakteristik isolat virus di tiap daerah, dan mendukung penelitian terkait pengembangan vaksin serta anti virus.

“Dalam mendukung strategi surveilans genom di Indonesia, kami berupaya melakukan pemetaan sebanyak mungkin WGS, melakukan analisa bioinformatika, dan membangun repositori data seca nasional," paparnya.(H-1)

BERITA TERKAIT