11 February 2021, 15:36 WIB

Eco-Nano-Biotechnology Miliki Potensi Besar di Masa Depan


mediaindonesia.com | Humaniora

ISTILAH Eco-Nano-Biotechnology yang dialihbahasakan menjadi Eko-Nano-Bioteknologi merupakan istilah baru. Dari hasil survei internet, istilah tersebut di dunia maya belum ditemukan.

Istilah ini merupakan kombinasi dari beberapa ilmu yang diterapkan untuk mengolah bahan-bahan organik dalam ukuran nanopartikel  menjadi obat herbal, pupuk, pakan ternak dan juga untuk aplikasi mengatasi mengatasi masalah pencemaran lingkungan.

Demikian dikatakan dosen Universitas Negeri Padang (UNP) dan juga peneliti Eco-Nano-Biotechnology, Dr. Abdul Razak, MSi dalam perbincangan dengan media melalui daring di Jakarta, Kamis (11/2)

Istilah ini, menurut razak, adalah pendekatan ekologi medis dan pemanfaatan ilmu dan kearifan lokal atau traditional ecology knowledge (TEK) untuk mengolah bahan organik dalam bentuk partikel nano yang memanfaatkan bakteri rumen sapi sebagai fermentor  (aspek bioteknologi),  itulah makna atau pengertian Eko-Nano-Bioteknologi. 

"Sebagai hal baru, kita dapat mengolah bahan-bahan organik tersebut menjadi produk yang murah, ramah lingkungan, berkualitas tinggi dan efektif daya kerjanya. Inilah keunggulan produk yang diproses melalui “perkawinan” ilmu ekologi medis, TEK, nanoteknologi dan bioteknologi," papar Razak.

Menurut Razak, Eco-Nano-Biotechnology berpotensi untuk membuat produk produk obat herbal, pupuk, pakan ternak dan juga untuk aplikasi mengatasi mengatasi masalah lingkungan di masa depan sangat prospektif. Hal ini harus ditunjang oleh ilmu dasar seperti biofisika, biokimia, biomaterial dan ilmu lainnya yang relevan.   

Razak sudah melakukan  penelitian yang menerapkan Eko-Nano-Bioteknologi. Selain itu, ia juga membuat produk obat kulit herbal yang difermentasi dengan pendekatan ekologi medis dan TEK.

Setelah itu, produk fermentasi dimasukkan dalam Nanospray yang mampu memecah molekul oksigen. Hasilnya obat kulit yang memanfaatkan teknologi nano menunjukkan daya efektivitas dalam penyembuhan luka.

Obat kulit yang dipakai tanpa dimasukkan ke dalam alat Nanospray luka pada kulit efektif sembuh dalam waktu satu minggu. Setelah dimasukkan ke dalam alat Nanospray, luka pada kulit sembuh dalam waktu tiga hari. 

“Penelitian ini sudah dilakukan pada tahun 2017. Hal ini juga dapat bermanfaat untuk obat herbal lainnya yang menerapkan Eko-Nano-Bioteknologi. Sebagai contoh obat kanker dari Sirsak, cairan mineral untuk meningkatkan dayatahan tubuh dan kecerdasan yang berbahan daun pegagan,” papar Dr. Abdul Razak. 

Razak menjelaskan peluang lainnya yang cukup besar, karena kita dapat mengembangkan produk pakan dengan bahan organik yang berukuran nano. Efektifitas daya serap pakan tersebut juga lebih efektif dan lebih cepat diserap oleh usus ikan. 

Pada alat oksigenasi  pada usaha budidaya ikan dan udang juga sudah dikenal nanobubble yang mampu memecah oksigen menjadi berukuran nano yang efektif untuk meningkatkan kualitas air dan kualitas pertumbuhan ikan dan udang pada usaha budidaya masyarakat.

"Pada produk obat herbal hasil fermentasi teknologi mikro dan nanobubles juga dapat digunakan agar proses fermentasi lebih berenergi dan mempercepat kerja bakteri dalam proses fermentas," jelasnya.

Prospek produk dengan pendekatan dan pemanfaatan Eko-Nano-Bioteknologi sangat menjanjikan dan bernilai ekonomi tinggi karena mengingkatkan added value atau nilai tambah.

Kini Razak telah mengembangkan obat kulit fermentasi, obat luka pada ikan lele, nila dan ikan cupang.

"Obat lain yang berasal dari tanaman epiphyt adalah daun ekor naga sebagai trombolisin yang bermanfaat sebagai obat mengatasi masalah gangguan fungsi  sel darah merah yang memicu munculnya diabetes, stroke, hipertensi, hiperkolesterol, arterklorosis dan mencegah serangan jantung," paparnya. (RO/OL-09)


 

BERITA TERKAIT