11 February 2021, 11:05 WIB

Penggunaan Satwa Primata Meningkat untuk Studi Covid-19


Zubaedah Hanum | Humaniora

PERMINTAAN satwa primata meningkat selama pandemi menyusul gencarnya penelitian dan pengujian di bidang biomedis, termasuk pengembangan vaksin covid-19.

"Di era pandemi covid-19, permintaan akan satwa primata bagi studi covid-19 amat tinggi. Sehingga pasokan satwa primata pun terbatas karena harus memenuhi aturan etika dan juga turut memperhatikan aspek lingkungan," ungkap Dr drh Huda S Darusman, Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB University dalam webinar internasional dengan topik Breeding Management of Nonhuman Primates in Supporting Biomedical Research yang diadakan pada Selasa (9/2).

Webinar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Webinar Series on Laboratory Animal Science and Medicine yang merupakan program Webinar rutin P3HLI dan ADHPHLI.
Hadir dalam kesempatan itu para akademisi dari Perhimpunan Peneliti dan Pengguna Hewan Laboratorium Indonesia (P3HLI), Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Laboratorium Indonesia (ADHPHLI), PSPP, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakata (PSSP-LPPM) IPB University serta Program Studi Primatologi, Sekolah Pascasarjana IPB University.

Dilansir dari laman IPB University, Huda mengatakan, dalam penyediaan hewan laboratorium ini, pihaknya mengacu pada kebijakan Keputusan Menteri Kehutanan No. 26/Kpts-11/1994 tentang pemanfaatan jenis kera ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), dan Ikan Arowana (Scleropages formosus) untuk keperluan ekspor yang harus berasal dari penangkaran.

Selain itu, sambung Huda, pihaknya juga mengacu pada Permen LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 mengenai perubahan kedua atas Permen LHK NO. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

PSPP sendiri sejauh ini telah memfasilitasi secara lengkap perawatan satwa hingga program perawatan kesehatan satwa, termasuk  pengelolaan sumber daya dan pengadaan satwa dan pencegahan penyakit beserta manajemennya.

Huda menekankan, program perawatan kesehatan satwa primata untuk kebutuhan laboratorium tidak mudah. Mereka harus diperhatikan secara rinci mengingat kedekatan kekerabatannya dengan manusia, mulai dari aspek genetik dan legalitas sumber daya, transportasi, identitas, hingga status kesehatan.

"Status kesehatan tersebut menjadi acuan bagi satwa primata untuk diberikan pertimbangan perlakuan, misalnya isolasi hingga eutanasia," imbuhnya.

Menurutnya, proses eutanasia atau tindakan medis untuk mengakhiri hidup pada hewan pun tak dilakukan sembarangan karena harus mengacu pada pedoman, salah satunya AVMA (American Veterinary Medical Association) Guideline for The Euthanasia of Animals.

Terkait penanganan hewan laboratorium, Huda menyampaikan, selain pengecekan kesehatan fisik yang dilakukan secara rutin dan berkala, status kesehatan psikologis satwa juga menjadi perhatian penting. Satwa primata yang berada di penangkaran, kata Huda, tentunya akan berbeda perilakunya dengan primata liar di alam.

"Pengurungan yang memakan waktu cukup lama akan mempengaruhi tingkat rasa sakit dan stres primata. Maka dari itu perlu juga dilakukan pengecekan tingkah laku, fisiologi, dan biokimia tubuh pada primata,” imbuhnya.

Huda menyebut bahwa kondisi primata dalam penangkaran tersebut memberikan beberapa tantangan tersendiri. Tantangan tersebut dapat berasal dari sisi satwa primata dan manusia. Dari sisi satwa primata, terdapat tantangan berupa masalah sosial, hierarki, ukuran otak yang besar, dan kemiripan dengan manusia. Sedangkan dari sisi manusia, terdapat tantangan berupa aspek etika dan hukum, kompatibilitas, serta suplai dan demand.

“Tantangan tersebut berpengaruh pada keterbatasan penggunaan satwa primata dan kompatibilitasnya, sehingga kami perlu mengetahui kapan dan dimana harus bijak dalam penggunaannya,” sebutnya.

Prof Drh Dondin Sajuthi, Presiden ADHPHLI dan Ketua Program Studi Primatologi IPB University mengatakan, uji coba pada hewan merupakan salah satu tahap penting yang harus dilakukan dalam memastikan keamanan produk sebelum digunakan ke manusia. Hewan laboratorium yang digunakan tidak terbatas pada spesies kecil seperti mencit dan tikus, namun meliputi spesies besar termasuk satwa primata.

Dari sisi pertimbangan etik dan kesejahteraan hewan, tegasnya, penggunaan satwa primata perlu didukung berbagai aspek ilmiah termasuk memastikan ketersediaan hewan berkualitas yang diperoleh dari program penangkaran yang baik. Selain itu, program pembiakan (breeding) atau penangkaran satwa primata memerlukan pertimbangan pada aspek manajemen kesehatan termasuk pemahaman fisiologi reproduksi yang sangat mendukung keberhasilan program.

Webinar itu juga menghadirkan Kelly Ethun, DVM, PhD, DACLAM Senior Veterinary Scientist, Assistant Research Professor dan Co-Director of Biomarkers Core Laboratory Yerkes National Primate Research Center, Emory University, Atlanta, Georgia, dari Amerika Serikat, sebagai salah satu pembicara. (H-2)

 

BERITA TERKAIT