09 February 2021, 17:51 WIB

BPPT Siap Laksanakan TMC Redistribusi Curah Hujan


Rudi Kurniawansyah | Humaniora

BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) siap melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) redistribusi curah hujan. Hal itu dilakukan untuk mengurangi hujan ekstrem yang melanda wilayah Pulau Jawa saat ini.

"Sejak Desember lalu, upaya mitigasi banjir melalui operasi TMC sudah diwacanakan pada beberapa rapat koordinasi Kementerian Lembaga untuk antisipasi fenomena La Nina serta faktor cuaca lainnya. Namun hingga kini belum ada arahan pelaksanaan operasi TMC, baik di wilayah DKI Jakarta maupun di wilayah-wilayah potensi banjir lainnya," kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam keterangannya, Selasa (9/2).

Berdasarkan prediksi cuaca, lanjut Hammam Riza, sebagian besar wilayah Pulau Jawa, beberapa hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

"Karena itu TMC redistribusi curah hujan di wilayah banjir perlu segera dilakukan guna antisipasi makin meluasnya wilayah terdampak banjir. Merujuk hasil TMC redistribusi curah hujan di Jabodetabek pada 2020, TMC redistribusi curah hujan mampu mengurangi curah hujan sebesar 21%-47% terhadap curah hujan alamnya, maka diharapkan dengan penerapan operasi TMC saat ini akan mengurangi potensi kerugian baik secara ekonomi maupun sosial," jelasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala BBTMC-BPPT Jon Arifian. "Kami menunggu komando. BBTMC telah menyiapkan sumber daya berupa peralatan dan logistik terkait yang diperlukan untuk operasi TMC di Lanud Halim
Perdanakusuma," ujarnya.

Diakui Jon Arifian, pelaksanaan TMC redistribusi curah hujan untuk mengurangi dampak banjir membutuhkan upaya dan sumber daya yang lebih dibandingkan TMC untuk menambah curah hujan. Diantaranya kesiapan pesawat karena masifnya pertumbuhan awan.

Metode TMC penyemaian awan untuk redistribusi curah hujan yang disiapkan, lanjut Jon Arifian, meliputi metode jumping proses dan sistem kompetisi. Metode jumping proses adalah perlakuan penyemaian pada awan-awan di luar wilayah rawan banjir yang pergerakannya mengarah menuju wilayah rawan banjir.

"Sedangkan sistem kompetisi adalah menyemai bibit awan yang masih kecil secara masif di daerah rawan banjir, sehingga awan tersebut tidak sempat berkembang menjadi hujan secara masif atau diupayakan buyar sebelum mencapai wilayah rawan banjir," ujarnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT