05 February 2021, 14:36 WIB

Jelang Imlek 2021 PPIDK Amerop Bahas Kebinekaan dan Toleransi


Mediaindonesia.com | Humaniora

HINGGA saat ini, kita semua sepakat bahwa budaya tidak statis tetapi berkembang seirama berkembangnya masyarakat. Budaya merupakan warisan yang berbentuk perilaku, sikap, kebiasaan, dan norma dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping itu kebudayaan merupakan nilai dan cita-cita yang dimiliki bersama sehingga dapat memprediksikan suatu perbuatan yang sesuai dengan pola kemasyarakatan. Indonesia sebagai negara berdaulat dan memiliki masyarakat yang multikultural dan menghargai pluralisme sebagai keragaman budaya untuk tetap dilestarikan.

Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Amerika-Eropa (PPIDK Amerop) melalui Divisi PPIDK Amerop Support (PAS) mencoba merajut kebinekaan dan toleransi menuju Indonesia Emas dalam Webinar Kebangsaan untuk memperingati Tahun Baru Imlek 2572 (Tahun Kerbau Logam). Kegiatan yang ditayangkan live melalui kanal Youtube PPIDK Amerop, Kamis (4/2), ini meghadirkan narasumber dan panelis dari berbagai latar belakang mendapat banyak perhatian dari masyarakat di Indonesia maupun luar negeri. Antusiasme ini menunjukkan bahwa tingginya animo masyarakat untuk terus menjaga kemajemukan bangsa.

Di awal diskusi Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia David Herman Jaya menegaskan bahwa kedewasaan hidup berbangsa harus dijadikan sebagai komitmen bersama dan sebagai generasi penerus harus selalu mengedepankan kepentingan dan persatuan bangsa. Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini mengimbuhkan bahwa cinta Tanah Air merupakan perintah dari agama yang tidak membedakan antara agama dan negara. "Di Indonesia kita menjalankan keberagaman dan kebangsaan dalam satu napas," tegasnya.

Poin penting juga ditegaskan pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar. Dalam mewujudkan kebinekaan, menurutnya, perayaan Tahun Baru Imlek bukan hanya untuk etnis Tionghoa, tetapi semua anak bangsa dapat merayakannya. Selanjutnya, Ketua Harian Perhimpunan Indonesia Tionghoa dr Indra Wahidin menyampaikan bahwa kebinekaan harus kita lakukan bersama-sama. Budaya sudah berakulturasi sehingga setiap elemen bangsa harus bersatu padu dan merawat kebinekaan tersebut.

Hal itu diperkuat oleh sejarawan Indonesia Anhar Gonggong. Sejarah itu menjadi bagian dalam proses kehidupan untuk kondisi yang diharapkan di masa depan. Sejarah yakni melihat hari depan. Kekinian dalam melihat hari depan merupakan proses yang tak terpisahkan dalam proses sejarah.

Secara terpisah Surya Gentha Akmal selaku PJ PPID Kawasan Amerika-Eropa Support dan Ketua PPI Ceko menyampaikan bahwa tujuan yang ingin dicapai dengan mengadakan webinar kebangsaan dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2572 yaitu momentum penting bagi kita semua untuk merawat dan menjaga kedewasaan dalam hidup beragama, berbangsa, dan berbudaya. "Kematangan beragama, berbangsa, dan berbudaya dibuktikan dengan kita turut berbahagia ketika saudara sebangsa dan setanah air juga bahagia," tutupnya.

Melalui kegiatan itu, PPIDK Amerop mengajak setiap elemen bangsa untuk dapat berbenah dan melihat kebinekaan dan toleransi sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang harus dijaga bersama tanpa melihat suku, agama, ras, dan budaya, seperti yang telah ditunjukkan oleh pendiri bangsa ini. Hadir pula sebagai narasumber pada kegiatan tersebut ialah Koordinator PPIDK Amerop, Simatupang Yitzhak Karunia. Pada pembukaannya ia menyampaikan harapan agar Tahun Baru Imlek 2021 bisa menjadi tahun pemulihan dan menjadi awal baik untuk tahun-tahun berikutnya. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT