30 January 2021, 21:39 WIB

Tekan Risiko Penyakit Jantung Bawaan, Perhatikan Masa Kehamilan


Eni Kartinah | Humaniora

DALAM periode kehamilan, ada satu masa yang perlu mendapat perhatian ekstra. Yakni, masa tiga bulan pertama kehamilan atau trimester pertama. Di masa inilah organ-organ janin tengah dibentuk, termasuk jantung. Gangguan tertentu, bisa menyebabkan bayi kelak lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB).

(PJB) merupakan kelainan pada struktur atau fungsi jantung yang terjadi sejak lahir (kongenital). Misalnya, ada kebocoran pada sekat pemisah ruang-ruang dalam jantung. Akibatnya, dapat terjadi abnormalitas fungsi jantung. Seperti, jalur aliran darah dalam jantung menjadi tidak normal, penyumbatan aliran darah, dan perlambatan aliran darah.

“Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko anak lahir dengan PJB. Antara lain, faktor genetis, kemudian ibu hamil di usia 35 tahun ke atas, ibu hamil mengalami gangguan di masa tiga bulan pertama kehamilan,” ujar dokter spesialis jantung anak Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Prof. dr. Ganesja Harimurti, Sp.JP(K), pada webinar yang digelar Jumat (29/1).

Gangguan pada trimester pertama itu misalnya, ibu hamil mengalami penyakit tertentu seperti diabetes dan hipertensi, minum obat tertentu tanpa konsultasi dengan dokter, terkena paparan sinar rontgen, ibu merokok atau menjadi perokok pasif. “Jadi, sebagai langkah pencegahan, ibu hamil harus hati-hati, rutin kontrol ke dokter,” kata dokter yang juga anggota Siloam Heart Institute ini.

PJB bisa dideteksi sejak janin berusia 40 minggu melalui pemeriksaan USG. Namun kadang ada yang lolos tak terdeteksi, misal karena kelainannya ringan, atau karena sebab lain. Kapan orangtua perlu curiga anaknya terkena PJB?

Pertama, ketika bayi terlihat susah menyusu, sebentar-sebentar berhenti, napas terengah-engah. Kedua, anak mengalami ganguan tumbuh kembang. Misalnya, tinggi dan berat badannya kurang jika dibandingkan dengan anak sebayanya. Ciri lain, anak sering demam, sebulan sekali atau lebih. Lalu, bibir dan kuku-kuku jarinya tampak membiru. “Kalau menemui gejala-gejala tersebut, segera konsultasikan ke dokter,” saran Prof. Ganesja.

Antrean operasi 2 tahun

Di Indonesia, prevalensi PJB ialah 9 dari 1.000 kelahiran hidup (data 2015). “Jika dirata-rata, ada 107 kasus baru tiap hari, atau dengan kata lain, setiap satu jam ada 4-5 bayi lahir dengan PJB,” ungkap Prof. Ganesja yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

PJB bisa dipulihkan melalui operasi. Sayangnya, fasilitas layanan penyakit jantung di Indonesia masih minim. Saat ini, di Indonesia baru ada 20 pusat pelayanan jantung. Jadi, meski ada BPJS Kesehatan yang sangat membantu meringankan biaya pengobatan namun keterbatasan fasilitas itu membuat penanganan terhambat. “Daftar antrean operasi penanganan PJB mencapai dua tahun,” cetus  Prof. Ganesja.

Siloam Heart Institute sendiri merupakan pusat layanan jantung yang dilengkapi dengan tim ahli dan fasilitas memadai. Tercatat lebih dari 2.370 kasus penyakit jantung telah ditangani dengan 149 di antaranya kasus PJB. (Nik)

BERITA TERKAIT