28 January 2021, 18:00 WIB

Ekosistem Riset Dukung Ekonomi Indonesia Berbasis Inovasi


Faustinus Nua | Humaniora

Meningkatkan sinergi dan efektivitas pelaksanaan program tahun anggaran 2021 serta meningkatkan pemanfaatan riset dan inovasi Indonesia di kalangan masyarakat untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional menjadi tujuan penyelenggaraan Rakornas Riset dan Inovasi 2021 oleh Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Di masa pandemi ini, kita didorong untuk melakukan percepatan dalam rangka menyiapkan ekosistem riset dan inovasi, yang mendukung upaya Indonesia untuk menjadi ekonomi yang berbasis inovasi,” kata Menristek/Kepala BRIN, Bambang Brodjonegoro dalam keterangan resmi, Kamis (28/1).

Baca juga: Helikopter BNPB Distribusi Bantuan Desa Terisolasi di Sulbar

Dalam rangka peningkatkan kegiatan dan kualitas riset dan inovasi di Indonesia, Menristek/Kepala BRIN menyampaikan bahwa peran swasta perlu ditingkatkan. Selain itu, kegiatan riset tetap mengupayakan pendanaan tambahan dari anggaran dana abadi penelitian sebesar hampir Rp5 triliun.

Selain pendanaan, ia menyebutkan, satu hal yang penting untuk mendukung riset dan inovasi adalah adanya komitmen dalam bentuk pengadaan dari pemerintah, maupun dari dunia usaha atau masyarakat secara umum.

“Salah satu bentuk komitmen yang Kemenristek/BRIN lakukan adalah pengembangan e-katalog khusus inovasi,” tegasnya.

Bambang menambahkan dengan bekerja sama dengan LKPP, kita telah mengembangkan e-katalog yang memuat produk-produk inovasi yang memungkinkan lembaga pemerintah untuk melakukan pengadaaan penelitian.

Di tahun 2021, Kemenristek/BRIN akan melanjutkan tahun kedua dari Prioritas Riset Nasional. Untuk Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, beberapa produk seperti ventilator icu, test kit untuk mengukur kadar antibody akan ditargetkan di tahun 2021. Selain itu meningkatkan kemampuan alat screening dan juga mengembangkan alternatif tes PCR yaitu reagen dan penggunaan air liur untuk pemeriksaan PCR, dan penangan limbah medis covid-19 dengan menggunakan teknologi pengolahan limbah yang terintegrasi.

“Target selanjutnya adalah dengan berpatisipasi dalam pemulihan ekonomi melalui desa berinovasi dan UMKM berinovasi serta praogram start-up inovasi, di samping kerja sama dengan institusi-institusi terkemuka di luar negeri terutama universitas,” urainya.

Menristek/ Kepala BRIN menyebutkan, pendanaan untuk seluruh kegiatan tersebut akan didukung dari anggaran di Kemenristek/BRIN tahun 2021 sekitar Rp2,6 triliun dan juga dari kelolaan dana abadi pendidikan serta dana abadi penelitian yang totalnya sekitar Rp500-600 miliar.

“Selain itu, anggaran dari masing-masing LPNK nantinya akan dioptimalkan untuk mendukung program-program tersebut,” terangnya.

Untuk capaian program prioritas 2020, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan inovasi unggulan yaitu program Indonesia Memanggil untuk SDM Terampil Penanganan Sars Cov -2, pengembangan Ventilator HFNC, uji klinis herbal immunomodulator untuk penanganan covid-19, dan Autonomous UVC Mobile robot untuk sterilisasi udara.

Bambang menyampaikan, pada awal masa pandemi, LIPI telah memberikan kontribusi yang luar biasa dengan tanggap memberikan pelatihan kepada tenaga laboratorium BSL 2 dalam rangka kepemeriksaan PCR.

“Kekurangan tenaga bisa segera dipenuhi dengan melibatkan tenaga lab di seluruh Indonesia untuk memperlancar jalannya tes PCR yang dibutuhkan,” lanjutnya.

Pada tahun 2021 ini, LIPI berupaya menyelesaikan pengembangan RT-LAMP. Hal ini diharapkan dapat menjadi pelengkap dari tes PCR dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, pengembangan ini menjadi upaya mempercepat tes screening tanpa tergantung pada mesin PCR. Dalam hal pengembangan riset, LIPI berkerja sama dengan mitra swasta akan berupaya untuk menghasilkan reagen yang selama ini masih impor.

“Kita harapkan reagen yang dikembangkan LIPI dapat membantu upaya pemenuhan regaen baik untuk pemeriksaan PCR maupun pemeriksaan penelitian lainnya,” ujar Bambang.

Kemenristek/BRIN mulai tahun 2021 akan memanfaatkan kelolaan dana abadi penelitian untuk mendukung Prioritas Riset Nasional, Konsorsium Riset, dan juga kerja sama dengan berbagai institusi di luar negeri.

Di tahun ini dirinya berharap vaksin merah putih sudah bisa diserahkan ke Biofarma. “Mudah-mudahan menjelang akhir tahun sudah bisa dilakukan uji klinis 1, 2 , 3 sehingga siap mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA),” tutupnya. (H-3)

BERITA TERKAIT