28 January 2021, 15:38 WIB

Hutan Amazon Terancam akibat Lonjakan Deforestasi pada 2020


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

ORGANISASI Konservasi Amazon mengungkapkan bioma Amazon dengan wilayah seluas Israel mengalami deforestasi tahun lalu. Ini karena kerusakan melonjak 21% di wilayah yang mencakup sembilan negara. Amazon merupakan rumah bagi hutan hujan terbesar di dunia.

"Pada tingkat itu, hutan hujan Amazon akan mencapai titik kritis dalam 10 hingga 20 tahun. Ini akan memasuki spiral kematian yang berkelanjutan saat mengering dan berubah menjadi sabana," kata Carlos Nobre, seorang ilmuwan sistem bumi di Universitas Sao Paulo.

Nobre menuturkan, sekitar 17%-18% dari bioma telah dihancurkan. Sekitar 1% lebih dibersihkan setiap tiga tahun. Ini berarti titik kritis kehancuran sebesar 20%-25% semakin dekat.

"Adalah wajib untuk mencapai nol deforestasi di seluruh Amazon dalam waktu kurang dari lima tahun," tuturnya.

Pandangan pertama Konservasi Amazon tentang penggundulan hutan pada 2020 menunjukkan bahwa sekitar 21.000 kilometer persegi hutan tua ditebang atau dibakar. Angka tersebut kira-kira seluas New Jersey. Kelompok nirlaba yang berbasis di AS itu menemukan fakta tersebut dalam analisisnya terhadap data satelit.

"Angka-angka ini sungguh mencengangkan," kata Matt Finer, pemimpin proyek pemantauan Amazon dari organisasi tersebut.

Bioma Amazon sangat didominasi oleh hutan hujan, tetapi mencakup ekosistem lain yang berbagi kumpulan tumbuhan dan hewan yang serupa. Banyak bagian Amazon mengalami cuaca yang lebih kering tahun lalu, sehingga lebih rentan terhadap kebakaran.

"Bolivia menyumbang peningkatan kerusakan terbesar dibandingkan 2019 ketika kebakaran besar melanda hutan kering Chiquitano," kata Finer.

Banyak warga Bolivia menggunakan taktik tebang dan bakar untuk membersihkan lahan bagi ternak atau kedelai. Api bisa lepas kendali dan menyebar ke hutan yang dalam kondisi kering.

Bolivia mengumumkan keadaan darurat pada Oktober. Sekitar 600 keluarga telah terkena dampak kebakaran tersebut. Peru, Kolombia, dan Ekuador mengalami peningkatan deforestasi yang lebih kecil.

Finer menuturkan Brasil mengalami deforestasi terbesar larena menyumbang 61% dari titik api di Amazon secara keseluruhan. Kerusakan hutan pada 2020 serupa dengan 2019.

"Saya pikir 2019 dianggap sebagai tahun yang sangat buruk bagi Amazon Brasil. Pada 2020 mendapat lebih sedikit tekanan dan perhatian tetapi itu sama buruknya, jika tidak lebih buruk," katanya.

Data 2020 didasarkan pada analisis awal peringatan deforestasi yang dihasilkan oleh University of Maryland, dengan angka akhir akan dikonfirmasi akhir tahun ini. (CNA/OL-14)

BERITA TERKAIT