27 January 2021, 23:25 WIB

Sepi Job Karena Covid-19, Aliansi Pekerja Seni Ngadu ke DPR


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

ALIANSI Sound System Organizer dan Pekerja Seni Indonesia mengadu nasib kepada Komisi X DPR RI mengenai nasibnya kini yang terombang-ambing atas kebijakan pemerintah di masa pendemi.

Pasalnya, menurut mereka kebijakan diterbitkanya izin tidak melakukan keramaian sehingga membuat aktifitas seniman khususnya seni hiburan atau panggung pertunjukan mati total da tidak mendapatkan pendapatan.

"Pada intinya kami mengadu nasib bahwa hampir satu tahun kami tidak bisa berkerja bahkan tidak dapat penghasilan. Selama satu tahun itu pun tidak ada solusi yang terbaik bagi kami," kata Iwan Sulistiawan dari Tegal saat Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi X DPR RI, Rabu (27/1).

Mereka yang tergabung dalam kelompok pekerja seni ini juga meminta solusi terbaik karena menurutnya saat ini peraturan yang ada memiliki persepsi yang berbeda-beda dari beberapa institusi misalnya penegak hukum, misalnya saja istilah new normal atau definisi mengena kerumunan.

Menurut Deden Sulaeman dari forum seniman Brebes, istilah new normal pemerintah mengakui adanya kebiasaan baru namu tetap memathi peraturan, hal ini sudah dilakukan pekerja seni dalam melaukan pekerjaannya. Namun kemudian istilah kerumunan itu muncul sehngga semakin menyulitkan pihaknya untuk mengais rezeki dari eerjaannya.

"Misalna melaksanakan protokol kesehatan dalam konteks new normal sehingga kami mengartikan bahwa itu diperbolehkan tapi kami dibilang mengumpulkan massa di masa pandemi sehingga ini batal demi hukum," kata

Aturan lain di beberapa daerah juga memberatkan para pekerja seni ini sebgaimana Aji Abdurahim dari tegal bercerita terdapat suarat ketentuan yang mana hajatan harus memperhatikan beberapa point seperti tidak boleh pasang tenda, tidak ada kerumunan, tidak menggunakan sounsd sistem,

Menyikapi hal ini Aji pun menjelaskan jika keadaan di lapangan tentu akan lebih baik dan sesuai protokol kesehtan jika menggunakan tenda.Ia mengatakan ruangan tamu yang lazimnya 3 x 6 meter menjadi pilihan untuk menerima tamu undangan. Tentu hal ini tidak bisa menampung tamu undangan dengan protokol kesehatan.

"Kedua, tidak bleh menggunakan sound sistem , korelasinya pa dengan pandemi ini, apa suara sound sistem yang menyebabkan klaster covid? Sementara kalu tidak boleh di masjid tidak dilarang? kalau memang sounds sitem yang menyebabkan klaster pandemi," lanjutnya.

Menilik hal ini, Rano Karno artis yang juga anggota Komisi X ini turut merasakan betul apa yang dirasakan para peerja seni ini sehingga dirinya akan mengusahakan mencari solusi. "Ya kita nanti coba telusuri ini karena memang bersebrangan dengan mitra kerja seperti kepolisian. Sekekal lagi saya situasi ini paham dan mudah-mudahan walaupun tidak kita akan carikan solusinya," pungkasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT