27 January 2021, 16:25 WIB

Varian Baru Covid-19 tidak Pengaruhi Efektivitas Vaksin Sinovac


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

PROGRAM vaksinasi sudah mulai berjalan di Tanah Air, dengan prioritas tahap awal ialah pejabat dan petugas kesehatan.

Namun, kemunculan varian baru virus SARS CoV-2 terdeteksi di sejumlah negara. Hal ini tentu menjadi ancaman baru. Mengingat, pemerintah menargetkan vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas bagi kelompok usia di atas 18 tahun, yaitu 182 juta orang.

Ketua Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia Iris Rengganis menilai mutasi atau varian korona asal Inggris B117 tidak memengaruhi efektivitas vaksin yang digunakan di Indonesia.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Program Penanganan Pandemi Secara Komprehensif

"Varian Corona Inggris B117 tidak memengaruhi efektivitas vaksin sebetulnya. Tidak memengaruhi netralisasi dari vaksin yang tersedia saat ini," jelas Iris dalam sebuah webinar, Rabu (27/1).

Menurutnya, varian baru covid-19 asal Inggris hanya berubah pada spike atau permukaan virus. Hal itu juga sudah dibuktikan sejumlah peneliti di Tanah Air. Akan tetapi, muncul masalah lain, yaitu varian baru 501.V2 dari Afrika Selatan yang memiliki dualitas. 

"Kadar antibodinya terlalu tinggi. Itu memang akan baik. Tetapi kalau kadarnya rendah, misalnya sampai 50%, itu tidak berhasil untuk netralisasi," papar Iris.

"Varian dari Afrika mudah-mudahan tidak sampai di Indonesia. Makanya kita harus menjaga orang dari Afrika tidak ke sini atau yang lainnya," imbuhnya.

Baca juga: Menteri BUMN: Vaksin Mandiri Pakai Merek Berbeda

Diketahui, sejumlah negara tengah melakukan vaksinasi dengan menyesuaikan varian baru dari Afrika. Mereka menggunakan plaform "messenger RNA" atau disingkat mRNA. Adapun mRNA merupakan resep genetik untuk membuat potongan paku yang berada di atas virus covid-19. Setelah vaksin disuntikkan, sistem kekebalan tubuh membuat antibodi terhadap paku tersebut.

Jika orang yang divaksinasi kemudian terinfeksi covid-19, antibodi tersebut harus siap menyerang virus. Vaksin Moderna khususnya, mengandung mRNA sintetis yang mengkode struktur dengan sebutan "glikoprotein lonjakan stabil pra-fusi" virus.

Sampai saat ini, varian baru belum terdeteksi di Indonesia. Adapun negara tetangga, seperti Singapura, juga beberapa negara Asia seperti Hong Kong, Korea Selatan dan Jepang, sudah mendeteksi varian tersebut.(OL-11)

BERITA TERKAIT