27 January 2021, 11:40 WIB

BMKG: Banjir Aceh Dipicu Curah Hujan Ekstrem hingga 175 mm


Zubaedah Hanum | Humaniora

BANJIR Aceh dipicu cuaca ekstrem dengan curah hujan tertinggi mencapai 175 milimeter di pos pengamatan Banda Raya pada 20 Januari 2021 dan pos pengamatan Kuta Malaka, Aceh Besar sebanyak 155,5 mm. Demikian hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Selain pos pengamatan Banda Raya, kejadian curah hujan ekstrem di Banda Aceh pada 20 Januari 2021 terpantau juga di Kuta Alam 118 mm, Kuta Raja 107 mm, Meuraxa 128 mm.

Hujan masuk kategori sangat lebat jika intensitas curah hujan mencapai 100-150 mm/hari. Jika curah hujan berlangsung lebih dari 150 mm/hari maka disebut dengan hujan ekstrem.

Di hari yang sama, hujan dengan intensitas tinggi terjadi di Aceh Timur dan Gayo Lues. Curah hujan di pos Simpang Jernih, Aceh Timur terpantau 120 mm dan Pining, Gayo Lues sebesar 108 mm.

Menurut BMKG tingginya curah hujan itu terjadi karena sejumlah faktor. Pertama, adanya Madden Julian Oscillation (MJO) di kuadran III dan IV. Gangguan tropis ini merambat ke arah timur sepanjang daerah tropis dengan siklus 30-60 hari.

Kedua, terdapat Outgoing Longwave Radiation (OLR) anomaly negative pada koordinat bujur 90 derajat bujur timur-145 derajat bujur timur atau di wilayah Indonesia pada 12 Desember 2020-20 Januari 2021. Ini didapat dari diagram hovmoller, yang menggambarkan parameter cuaca dan iklim berdasarkan runtun waktu terhadap spasial dan tempat.

"Ini memicu pertumbuhan awan konvektif di wilayah Indonesia dan di Aceh khususnya," tulis Harisa Bilhaqqi Qalbi, staf data dan informasi BMKG dari Stasiun Klimatologi Aceh Besar, dilansir dari laman BMKG, Rabu (27/1).

Equatorial Wave menjadi faktor ketiga penyebab tingginya curah hujan di Aceh. BMKG menyebutkan gelombang ekuator dalam bentuk gelombang Kelvin dan Rossby yang terjadi di sebelah barat Samudera Hindia telah menggerakkan massa udara dan membantu pertumbuhan awan konvektif.

Kelvin wave memiliki periode 12-20 hari menentukan aliran barat (merambat ke arah timur) dan Rossby-gravity wave yang memiliki periode 4-5 hari menentukan angin timur (merambat ke arah barat).

"Selain itu terdapat shearline (pembelokan angin) di sekitar wilayah Aceh, saat kejadian curah hujan ekstrem, yang dapat memicu peningkatan pembentukkan awan hujan di wilayah Provinsi Aceh," sebut Harisa.

Mendominasi

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyatakan banjir menjadi bencana yang paling dominan terjadi di wilayah provinsi paling barat Indonesia itu sepanjang 2021, yang dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi.
 
"Tercatat 44 kali kejadian bencana di Aceh sepanjang bulan Januari 2021, dan yang paling dominan bencana banjir," kata Kepala Pelaksana BPBA Ilyas dalam keterangan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) di Banda Aceh, dilansir dari Antara.
 
Pusdatin BPBA mencatat peristiwa banjir sebanyak 18 kali kejadian, termasuk sekali banjir bandang di Kabupaten Bener Meriah. Kemudian 11 kali longsor dan sembilan kali kebakaran pemukiman di Bener Meriah, Langsa, Aceh Utara, Pidie Jaya, Aceh Selatan dan Aceh Tenggara.
 
Selanjutnya, dua kali kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Banda Aceh dan Aceh Selatan, tiga kali peristiwa angin puting beliung di Sabang dan Lhokseumawe serta satu kali banjir dan longsor di Aceh Utara. 


Akibat bencana itu total warga yang terdampak sebanyak 17.632 jiwa dari 4.591 kepala keluarga (KK), dengan kerugian ditaksir sekitar Rp9,5 miliar. (H-2)

BERITA TERKAIT