26 January 2021, 23:02 WIB

Terdampak Pandemi, Begini kiat PR Untuk Bisa Tetap Eksis


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PANDEMI covid-19 yang masih melanda dunia hingga hari ini, telah menyasar kepada beberapa sektor. Salah satu sektor penting yang ikut terdampak ialah public relation (PR). 

Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) Agung Laksamana mengatakan bahwa pandemi telah membuat semua hal yang campaign global dan tren heboh yang sudah disiapkan oleh PR menjadi tidak relevan lagi. 

"Di 2021 ini, dunia humas menghadapi bukan satu tantangan, tapi sepuluh tantangan sekaligus. Sepuluh tantangan kompleksitas dunia praktisi humas,” ungkapnya dalam acara penghargaan Indonesia Public Relation Award (IPRA) 2021: Navigating the Better Future secara virtual, Selasa (26/1). 

Menurut Agung, selain dari pandemi covid-19 itu sendiri, tantangan yang dihadapi PR mencakup disrupsi bisnis, media lanskap yang berubah, adanya fake news dan hoaks, adanya fake influencer dan fake followers, serta keberadaan robot journalism dan artificial intelligence (AI). 

Selain itu, kondisi yang serba mobile juga menjadi tantangan tersendiri. Ada pula soal informasi yang berlebihan, hingga tingkat perhatian audience yang berkurang. 

“Robot sudah bisa membuat berita, di Jepang artificial intelligence (AI) sudah bisa menjadi creative director, membuat iklan, dan video musik. Di Tiongkok, AI sudah menjadi news anchor. Di era 4.0 ini, lalu lintas informasi begitu deras, target audience kita bingung, mana yang kredibel, publik sendiri tidak bisa membedakan,” ujarnya. 

Maka dari itu, Agung menegaskan bahwa PR harus bisa memahami kondisi terkini. Ia menuturkan, setidaknya ada tiga mantra yang perlu menjadi fokus dan dilakukan oleh PR di masa sekarang. Salah satunya adalah harus bisa mengadopsi kondisi perubahan yang ada. 

“Kedua, kita harus beradaptasi dengan strategi-strategi baru untuk melihat platform-platform baru. Ketiga, itu kita harus mahir, kita harus canggih, kita harus expert di dalam bidang kita. Kita juga harus memahami fundamendal dari PR itu sendiri,” pungkas Agus. 

Sementara itu, Founder sekaligus Presiden Komisaris Warta Ekonomi Fadel Muhammad mengatakan, penyelenggaraan Indonesia Public Relation Award (IPRA) kali ini memiliki suasana dan makna yang berbeda dibanding penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya. 

Baca juga : PPKM Dilanjutkan, Perpusnas Tetap Tutup Layanan Fisik

Hal ini lantaran saat ini dunia masih dalam keadaan pandemi, seperti halnya kita ketahui bersama, utilisasi teknologi kini memiliki peran yang semakin penting. 

“Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 2020 ini, disebutkan bahwa sebanyak 77% dari responden yang merupakan para praktisi di dunia ke-PR-an merasakan betul bahwa peran PR menjadi semakin penting di saat pandemi ini,” ujar Fadel. 

Berkaca pada hasil penelitian tersebut, Fadel mengimbau pada segenap praktisi PR yang hadir dalam acara kali ini untuk dapat turut mengambil peran lebih besar lagi di masyarakat. Termasuk juga terkait program vaksinasi yang telah dilaksanakan oleh pemerintah sejak tanggal 13 Januari 2021 lalu. 

Dengan perannya yang besar di masyarakat, Fadel berharap komunitas PR dapat ikut membantu pemerintah dalam memerangi pandemi covid-19 ini dengan turut menyosialisasikan dan menginformasikannya di tengah-tengah masyarakat. 

“Pada gelaran kali ini, Warta Ekonomi mengambil tema Navigating For The Best Future. Ini sangat menarik, karena menandakan sebuah ajakan untuk kita bersama-sama dalam satu arahan menuju masa depan yang lebih baik. Terakhir, Saya ucapkan selamat kepada para pemenang dalam acara penghargaan ini, sekaligus mengapresiasi setinggi-tingginya kiprah dan kontribusinya selama ini melalui dunia public relation,” tegasnya. 

Dalam menentukan pemenang, tim peneliti Warta Ekonomi dalam melakukan penelitiannya terkait penghargaan Indonesia Public Relation Award (IPRA) 2021: Navigating the Better Future, dengan menggunakan metode media monitoring melalui analisis konten. 

Periode sentimen positif yang dinilai dimulai dari Agustus-Desember 2020. Penghargaan ini diberikan kepada 15 sektor industri, antara lain agribisnis, asuransi jiwa, asuransi umum, multifinance, perbankan, dan consumer goods. 

Sektor lain mencakup ritel, energi, minyak dan gas, properti dan konstruksi, pertambangan, otomotif, transportasi, foundation, serta informasi, teknologi, dan komunikasi. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT