19 January 2021, 16:20 WIB

Universitas Brawijaya Mitigasi Berbasis Teknologi Sederhana


Bagus Suryo | Humaniora

PAKAR kebumian dan kebencanaan Universitas Brawijaya, Malang Jawa Timur, menyatakan solusi bencana yang diperlukan saat ini memadukan mitigasi, pemetaan, kearifan lokal dan inovasi sederhana.

"Terpenting semua pihak bekerja sama dan saling membantu dalam mitigasi melibatkan masyarakat," tegas Guru Besar Geofisika, Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Universitas Brawijaya Adi Susilo, Selasa (19/1).

Adi mengungkapkan sesungguhnya mitigasi itu murah dan tidak rumit. Pasalnya masyarakat bisa diedukasi dengan cara yang sederhana memadukan dengan kearifan lokal."Di daerah rawan tanah longsor, bisa memasang peralatan sederhana, kawat yang ditancapkan ke tanah untuk mendeteksi tanah gerak. Bila kawat menegang itu tanda ada peegerakan tanah," ungkapnya.Cara sederhana itu bisa diterapkan sebagai bentuk mitigasi. Saat tanda-tanda akan ada tanah gerak, warga agar berupaya ke tempat aman. Sehingga berkomunikasi dengan masyarakat itu lewat pengetahuan mitigasi sederhana tapi efektif sebagai bentuk penyadaran dan bagian dari pemetaan.

Demikian pula mitigasi gelombang laut bisa dengan memasang pelampung yang dilengkapi sirene. Pelampung itu mendeteksi naik turunnya air laut ketika ada gempa bumi dan tsunami.Saat ini, kata Adi, semua pihak agar meningkatkan mitigasi dan pemetaan mengingat yang dominan bencana hidrometeorologi karena puncak musim hujan. "Dalam mengatasi bencana itu pemerintah dan masyarakat harus gotong royong," tuturnya.

Adi menjelaskan saat bencana melanda, yang merasakan langsung dampaknya ialah masyarakat. Namun, penanganan bencana bukan semata tugas pemerintah, tapi menjadi kewajiban bersama mulai warga, aparat, relawan termasuk akademisi."Jangan saling menyalahkan ketika telanjur ada bencana, semua kita bantu. Semua pihak kerja sama mitigasi dan saling membantu," kata Ketua Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan UB tersebut.

Adapun soal solusi bencana, lanjutnya, pemetaan sangatlah penting. Daerah rawan longsor, misalnya, bencana tidak bisa dihindari tapi hanya mengurangi dampaknya. Pemetaan sejak dini menjadi vital dipadukan dengan teknologi dan keatifan lokal."Bila daerah rawan longsor itu tanah endapannya rendah bisa diberi tiang pancang atau potensi longsor diarahkan ke tempat lain," ungkapnya.

Demikian juga peran kearifan lokal sangat penting karena masyarakat umumnya sudah berpengalaman dalam mengatasi bencana. Terkadang, bayangan orang kota, pemerintah maupun akademisi berbeda dengan warga dalam memahami potensi bencana.Adi mencontohkan pernah penelitian di Poncokusumo, Kabupaten Malang. Daerah itu paling dekat dengan Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Akademisi semula beranggapan daerah setempat memiliki potensi bahaya guyuran hujan abu vulkanik. Ternyata, sudut pandang masyarakat dalam memahami bencana berbeda, bukan potensi bahaya gunung seperti yang dikira kebanyakan orang. Akan tetapi warga justru memahami bahaya pada tikungan tajam jalan raya yang kerap terjadi kecelakaan lalu lintas.

"Cara pandang mitigasi ternyata bisa beda, apa yang kita bayangkan berbeda dengan warga. Karena itu mengedukasi masyarakat harus terus-menerus dan berkelanjutan," pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Banjir di Kabupaten Nunukan Berangsur Surut

BERITA TERKAIT