14 January 2021, 04:15 WIB

Membersihkan Pantai dan Kawasan Pesisir


Putri Rosmalia Oktaviyani | Humaniora

SEBAGAI warga pesisir, Sahril Akbar amat mencintai pantai dan laut. Ia selalu rindu akan kawasan pantai yang indah dan bersih seperti di masa kecilnya. Namun, kini hal itu sudah semakin langka ditemui di kampung halamannya, Makassar. Pesatnya pertum­buhan wisatawan, membuat kawasan pesisir menjadi ladang menumpuknya sampah, khususnya sampah plastik. Lingkungan yang kotor mengancam kesehatan warga pesisir dan juga semakin tidak menarik bagi wisatawan.

“Pantai sudah sangat kotor oleh sampah plastik, warga mulai terganggu kesehatannya,” ujar Sahril, saat dihubungi Media Indonesia, Selasa, (12/1).

Dengan melihat keadaan ini, Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia ini pun memutuskan bergerak menangani masalah tersebut. Pada September 2019, ia membentuk komunitas dan Yayasan Baruna Ocean Indonesia.  Melalui lembaga ini, Sahril mulai merangkul warga untuk mau bergerak bersama membersihkan pantai, tanpa harus mengandalkan bantuan pemerintah. “Sebenarnya warga juga ingin lingkungan bersih, tapi kadang mereka juga lelah karena sampah yang terlampau banyak harus dikelola di tengah kegiatan mereka lainnya,” ujar Sahril.

Menurut dia, sebagian besar warga yang tinggal di kawasan pesisir Makassar memiliki tingkat ekonomi rendah. Kondisi itu juga telah menjadi perhatian Sahril selama tinggal di Makassar. Berbekal pengetahuan dan relasi yang baik dengan beberapa gerakan lain seperti mal sampah di Makassar, Sahril akhirnya mulai lebih serius mengajak warga memungut dan mengelola sampah plastik di pantai. Edukasi dan sosialisasi dilakukan intensif kepada warga agar mereka mau terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Setelah mereka pungut dan bersihkan, saya tampung dan jual, salurkan ke mal sampah, jadi warga bisa dapat penghasilan dari memungut sampah plastik di lingkungannya,” ujarnya.

Untuk bisa mengatasi masalah lingkungan, seperti sampah di pesisir, kata Sharil, harus dilakukan beriringan dengan upaya pemberdayaan warga untuk peningkatan ekonomi. Dengan begitu, mereka menjadi lebih semangat dan paham manfaat dari gerakan yang mereka jalankan.

 “Jadi, Baruna hadir untuk menyelesaikan beberapa permasalahan ini, satu masalah lingkungan di pesisir, kedua ialah masalah ekonomi. Kami ingin memberdayakan masyarakat pesisir, mengajak mereka menjadi mitra penjaga kebersihan di pantainya sendiri dengan mendapatkan manfaat ekonomi di baliknya,” ujar Sahril.

Saat ini, sudah ada tiga wilayah pesisir di Makassar yang menjadi lokasi kegiatan Baruna, yakni Pantai Tanjung Bayang, Pulau Lakkang, dan Angin Mamiri. Saat ini ada 38 warga yang aktif sebagai mitra penyalur sampah plastik dari pantai. Selain membantu membersihkan pantai melalui pemberdayaan warga, Sahril mengatakan Baruna Ocean juga ingin menjadi wadah, khususnya bagi anak muda di Makassar agar lebih peduli pada lingkungan. Sahril kemudian meng­ajak anak-anak muda Kota Makassar untuk secara rutin membersihkan pantai. Ada tiga titik yang menjadi lokasi pembersihan, yakni Pantai Losari, Tanjung Bayang, dan Angin Mamiri.

“Tiga pantai itu yang menjadi lokasi wisata paling ramai di Makassar, tetapi kebersihannya kerap terabaikan. Khususnya di Tanjung Bayang dan Angin Mamiri karena memang tidak dikelola resmi pemerintah seperti di Losari,” ujar Sahril.

Sejak pertama kali dibentuk, sudah ada 194 relawan yang aktif bergerak mengikuti kegiatan pembersihan pantai bersama Baruna Ocean. Pembersihan dilakukan setiap akhir pekan setelah wisatawan umumnya mulai meninggalkan lokasi wisata.

Sepanjang 2019, terdapat 200 ton sampah yang diangkut oleh Baruna Ocean. Karena pembatasan kegiatan selama pandemi, pada tahun lalu jumlah yang diangkut sebanyak 80 ton, sebagian besarnya ialah sampah plastik. “Tahun 2021 ini target kami bisa bergerak lebih masif dan mengangkut lebih banyak lagi sampah yang ada di pesisir,” ujar Sahril.

Lebih sulit wisatawan

Sahril mengatakan pada dasarnya tidak sulit mengajak anak muda untuk terlibat dalam kegiatan penyelamatan ling­kungan. Namun, kebanyakan dari mereka belum menemukan wadah yang tepat untuk ikut terjun berkegiatan. “Karena itu, saya ingin agar bisa lebih banyak dan masif lagi bergeraknya seiring waktu yang berjalan,” ujarnya.

Selain di pantai, Sahril juga secara rutin satu kali dalam sebulan ikut menumpang kapal nelayan untuk memungut sampah di laut. Dengan begitu jangkauan pemungutan sampah bisa lebih luas.

Sahril mengatakan apa yang dilakukan bukan tanpa kedala. Beberapa hal kerap membuat usahanya menyelamatkan lingkungan dan memberdayakan warga pesisir jadi terhambat. Salah satunya birokrasi pemerintahan daerah yang kerap berbelit. “Seperti misalnya kalau kita mau mengumpulkan warga untuk mengedukasi, harus izin ke beberapa tingkatan administrasi pemerintahan, jadi memang berbelit tapi mau tidak mau kami lakukan,” ujarnya.

Selain itu, tantangan lainnya ialah mengedukasi wisatawan. Hal itu, menurutnya, jauh lebih besar daripada mengedukasi warga pesisir. “Kalau warga kan mereka ingin lingkungannya bersih, kalau wisatawan ini sulit sekali, karena mereka hanya datang berkunjung lalu pergi, tak merasakan dampaknya dari sampah yang mereka bawa,” ujar Sahril.

Untuk mengedukasi wisatawan, ia kerap melakukannya bersama para relawan ketika membersihkan pantai. “Biasanya kami lakukan melalui volunteer yang tengah bekerja membersihkan pantai, mereka kerap sambil edukasi juga ke wisatawan. Edukasi langsung pada wisatawan di lapangan,” tuturnya. (M-4)

BERITA TERKAIT