14 January 2021, 02:25 WIB

Memperlakukan Jasad Korban dengan Penuh Respek


Eko Suprihatno | Humaniora

HENDRATA Yudha Wardana, 51, berkali-kali mengedipkan mata dari balik masker selamnya. Ia seperti tak percaya pada penglihatannya ketika menyaksikan pecahan badan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182. Belum lagi tubuh-tubuh para penumpang yang tak lagi utuh.

"Ada beberapa detik saya terpana seperti tak bisa berbuat apa-apa. Saya membayangkan kejadian sebelumnya," ujarnya saat dihubungi kemarin.

Bagi instruktur The National Association of Underwater Instructors (NAUI) Indonesia itu, menjadi tim penyelam sebagai rescuer bukanlah yang pertama kali. Ia juga terlibat mencari para korban ketika pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610 mengalami musibah di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29 Oktober 2018).

Hendra memang dikenal andal dalam rescue di laut. Setelah menerima informasi kecelakaan pesawat Sriwijaya, ia bersama rekan-rekannya langsung berkoordinasi dengan Basarnas untuk melakukan penyelamatan. Mereka menggunakan kapal KN Wisnu milik Basarnas dalam melakukan evakuasi para korban.

Dari kedalaman laut, para penyelam menemukan banyak jenazah yang harus diperlakukan secara perlahan dan penuh kehati-hatian ketika dievakuasi. Bila ada kesembronoan, kondisi jenazah tersebut bisa lebih acak-acakan mengingat mereka tersangkut dalam potongan besi atau terlilit kabel.

"Kalau kondisi laut tenang, itu memudahkan evakuasi dan jarak pandang di dasar pun menjadi lebih luas," ungkap jurnalis itu lagi.

Hendrata mengakui terkadang ia merasakan adanya suasana berbau mistis saat melakukan evakuasi para korban dari dasar laut.

"Namun, kami yakin mereka sudah tenang di sana dan mereka bisa 'membantu' kami mendapatkan jasad untuk disempurnakan secara layak," tambah Hendrata yang memperlakukan jasad korban dengan penuh hormat.

Lebih lanjut, ia menyebutkan ada tiga tingkat kesulitan yang kerap menghadang para rescuer saat di dalam laut, yaitu jarak pandang, mental, dan kontrol udara dalam penyelaman.

Secara umum, lama penyelaman hanya 30 menit agar tubuh tidak menghisap nitrogen terlalu banyak.

"Kadang karena exciting ingin menolong para korban, penyelam bisa lupa ada batas waktu penyelaman. Itu sangat membahayakan," ujarnya.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai jurnalis itu memang lekat dengan dunia petualangan. Baginya menyelam di laut sudah menjadi kegiatan rutin, terlebih dalam posisinya sebagai seorang instruktur. Hendrata mengisi waktunya dengan merambah lembah dan pegunungan demi mengulik adrenalin yang sepertinya tak bisa duduk tenang. Untunglah keluarganya memaklumi segala aktivitas dia yang memang sudah dilakoninya sejak menjadi mahasiswa di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP) Jakarta. (Eko Suprihatno/X-7)

BERITA TERKAIT