13 January 2021, 10:05 WIB

Kepala Eijkman: Vaksinasi Punya Dobel Manfaat


Faustinus Nua | Humaniora

KEPALA Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio menekankan pentingnya vaksinasi di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Sebab, vaksin tidak hanya meningkatkan kekebalan pada invidu saja tapi juga penting untuk melindungi komunitas, keluarga dan masyarakat.

"Selain efek terhadap individunya tapi juga yang kita harapkan bahwa vaksinasi itu membuat orang yang terpapar tidak menjadi sumber penularan bagi orang lain," ungkapnya dalam acara Virus Corona Bermutasi, Mampukah Vaksin Menangkalnya, Selasa (12/1).

Menurutnya, prinsip kerja vaksin adalah meningkatkan produksi antibodi dan respin kekebalan seluler. Vaksin memperbaiki sistem kekebalam tubuh individu.

Lantas, dengan menerima vaksin, individu akan terlindungi dari infeksi. Kalau pun terpapar atau terjangkit gejala yang ditimbulkan menjadi lebih ringan dan bahkan tidak sampai berdampak pada kematian.

Lebih lanjut, Amin mengatakan bahwa individu yang sudah divaksinasi tidak bisa menularkan virus ke orang lain atau menjadi sumber penularan. Sehingga, mata rantai penularan virus bisa diputuskan.

"Itu menjadi dasar kenapa kita sekarang menduhulukan orang-orang yang ada di front line, termasuk tenaga kesehatan, petugas keamanan. Karena pekerjaannya memiliki risiko tinggi untuk terpapar virus. Nah itu dulu yang di-protect supaya mereka tidak menjadi sumber baru," jelasnya.

Selain itu, dia mengatakan individu yang sudah divaksinasi mungkin saja terpapar virus. Akan tetapi belum tentu bisa tertular hingga menimbulkan gejala.

"Kalau virus tidak berhasil menular orang itu tentu tidak menjadi sumber lagi. Virus itu bertambah banyak kalau dia sudah berhasil masuk ke dalam sel. Beda dengan bakteri bisa tumbuh di luar, jamur juga gitu, kalau virus dia harus hidup di dalam sel hidup," katanya.

Dengan demikian, Amin berharap masyarakat memahami pentingnya vaksin pada saat ini. Mewujudkan herd comminity hanya bisa dilakulan bersama dan masyarakat sadar bahwa vaksin bukan hanya penting bagi diri sendiri tapi juga komunitas.

"Di vaksin itu ada 2 jadi kebal dan melindungi org lain. Ada efek individu dan juga melindungi orang lain. Jadi ini yang harus dipahami, makax ini adalah juga basisnya gotong royong. Indonesia kan prinsipnya gitu, kita tidak hanya melindungi diri sendiri tapi juga orang lain," jelasnya.

Adapun, terkait pemahaman masyarat terhadap efikasi vaksin Sinovac yang mencapi 65%, Amin menambahkan bahwa efikasi itu sudah melebihi standar WHO. Efikasi merupakan hasil uji klinis antara kelompok yang menerima vaksin dan plasebo.

Efikasi vaksin 65% tidak serta merta menyatakan 35% tersisa tetap berpotensi terinfeksk virus. Angka 65% menunjukan hasil uji klinis bahwa bila divaksinasi akan menhurangi 65% potensi terinfeksi virus.

"Tapi itu tetap probability. Seklai lagi efokasi itu adalah hasil dari uji klinis di mana semuanya terkontrol. Subjeknya tekontrol, vaksinya terkontrol dan semua prosedurnya kan terkendali. Berbeda dengan efectivness. Itu adalah apa yang kita dapatkan ketika sudah dipakai atau diberikan secara umum," terangnya.

Dia pun berharap masyarakat tidak memahami secara salah terkait efokasi vaksin Sinovac. Mengingat vaksin buatan Tiongkok itu sebenarnya sangat cocok dengan kondisi di Indonesia. Sinovac lebih aman didistribusikan ke seluruh plosok tanah air dibandingkan vaksin lain yang disimpan dengan suhu yang sangat rendah. (H-2)

BERITA TERKAIT