12 January 2021, 10:05 WIB

Tanyani Nyeri Kronis pada Anak, Manfaatkan 30 Menit yang Berharga


Faustinus Nua | Humaniora

NEIL L Schechter dari Departemen Anestesiologi, Perawatan Kritis, dan Pengobatan Nyeri, Rumah Sakit Anak Boston, mengatakan bahwa setiap anak yang mengalami nyeri kronis, sebagian besar akan ditanggapi dengan perawatan rehabilitasi yang menggabungkan terapi perilaku-kognitif dan fisik.

Namun, ada faktor lain yang harus dipahami dokter untuk mengetahui cara membantu keluarga melalui rencana perawatan berbasis fakta tersebut, dari sisi biologis, psikologis, dan sosial terkait nyeri. Sebab, nyeri pediatrik kronis mungkin serupa dengan 'jam berharga' dalam trauma atau perawatan neonatal.

Dalam artikel The Golden Half Hour in Chronic Pediatric Pain—Feedback as the First Intervention yang ditulisnya di Jama Network, Neil menyarankan dokter untuk mengoptimalkan 30 menis masa emas pada intervensi pertama.

Selama masa kritis, kata Neil, ada kesempatan untuk terhubung dengan keluarga, mengklarifikasi kesalahpahaman, pindah menuju pemahaman biopsikososial bersama tentang nyeri, dan melibatkan keluarga dalam rencana pemulihan yang komprehensif. Dengan demikian, pihaknya pun meninjau bagaimana ekspektasi dan bias pasien dan dokter mempengaruhi diskusi umpan balik.

Umumnya, pasien dengan nyeri kronis dievaluasi oleh banyak dokter, termasuk dokter anak dan spesialis, yang masing-masing mungkin hanya menangani satu dari gejala persisten anak yaitu, sakit kepala, sakit perut, pusing, mual, atau kelelahan.

Namun, ketika setiap gejala ditangani secara terpisah, jarang memberikan bantuan yang komprehensif. Selain itu, proses ini dapat menumbuhkan keyakinan keluarga bahwa setiap gejala mewakili penyakit yang berbeda jika sering kali merupakan masalah yang saling terkait.

"Sayangnya, dengan evaluasi yang berturut-turut dan upaya pengobatan yang gagal, anak-anak sering kali mengalami kelemahan yang lebih besar, orang tua menjadi semakin khawatir bahwa ada sesuatu yang terlewatkan, dan kepercayaan keluarga terhadap dokter mereka dapat terkikis," imbuhnya.

Penelitian menunjukkan bahwa untuk keluarga dengan kecemasan kesehatan yang tinggi, pendekatan dengan cara kunjungan rutin pada pasien tidak banyak mengurangi kekhawatiran keluarga.

Sebaliknya, dokter perlu menumbuhkan harapan orang tua dan anak sejak awal. Hal itu memfasilitasi pemahaman menyeluruh tentang masalah utama keluarga, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kepuasan. Misalnya, jika orang tua melaporkan bahwa mereka mengharapkan anaknya menjalani tes diagnostik tambahan, ini perlu dihargai dan ditangani selama umpan balik.

"Sesi umpan balik yang dibangun dengan hati-hati yang menawarkan validasi, edukasi, dan harapan dapat menjadi titik balik bagi pasien dan orang tua mereka dan berfungsi sebagai intervensi pertama yang kritis yang dapat meningkatkan pemulihan dan kesejahteraan jangka panjang anak secara bermakna," tandasnya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT