18 December 2020, 14:30 WIB

Menristek Serahkan SK Vaksin Merah-Putih kepada Tim UGM


Faustinua Nua | Humaniora

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menyerahkan surat keputusan menteri atau Kepmen kepada Universitas Gadjah Madah untuk Dengan demikian, UGM telah secara resmi bergabung dalam tim Nasional Pengembangan Vaksin Merah-Putih.

“Kebutuhan vaksin ini tidak hanya untuk tahun 2021, namun juga untuk tahun 2022 dan selanjutnya. Tentunya, ini kebutuhan yang sangat besar, mengingat populasi Indonesia mencapai 270 jiwa dan perlu adanya booster vaksin atau revaksinasi," ungkapnya saat melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta.

Baca juga: Kemendikbud Bakal Gencarkan Budaya Berpantun

Sebelumnya, SK terkait Pelaksana Harian Tim Nasional Percepatan Pengembangan Vaksin Covid-19 tersebut juga diberikan kepada Universitas Indonesia (UI) dan LIPI di Cibinong pada 3 Desember, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dan Universitas Airlangga pada 4 Desember di Surabaya, serta kepada ITB pada tanggal 8 Desember 2020. Nantinya, juga akan dilakukan penyerahan SK tersebut kepada UNPAD

"Saat ini, ada satu tambahan institusi yang turut mengembangkan Vaksin Merah-Putih, yaitu UNPAD, sehingga total ada 7 institusi," imbuhnya.

Selain itu, pada kesempatan tersebut Bambang juga menyerahkan sejumlah produk inovasi yang dapat membantu penanggulangan Covid-19 di Provinsi DI Yogyakart. Beberapa inovasi yang diserahkan antara lain; Rapid Test RI-GHA sebanyak 4.000 pcs, Robot Pelayan Kesehatan RAISA sebanyak 3 unit, Stick flocked swab UI sebanyak 60.000 pcs dan Paket imunitas yang berisi Wedang Uwuh, Teh Jahe, Virgin Coconut Oil (VCO), Vitamin OST-D, Minyak Kayu Putih, Curcuma Pro, Permen Cajuput, dan Teh Dia sebanyak 200 buah.

Produk tersebut merupakan buatan anak bangsa yang difasilitasi Kemeristek/BRIN melalui Bakti Inovasi. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi di sektor teknologi, sehingga produk dalam negeri perlu didukung dengan membangun ekosistem riset dan inovasi.

"Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 dengan membumikan hasil riset dan inovasi sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita perlu membangun ekosistem riset dan inovasi yang solid, sehingga dapat mengurangi ketergantungan akan impor," ucap Bambang.

Bakti Inovasi sendiri merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban Kemenristek/BRIN kepada masyarakat. Hal itu untuk meningkatkan daya guna produk inovasi, mengetahui respons pengguna terhadap produk inovasi, dan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.

BERITA TERKAIT