07 December 2020, 11:30 WIB

Masih Ada Masyarakat yang Kurang Percaya Keamanan Vaksin


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

SEBANYAK 1,2 juta vaksin covid-19 buatan Sinovac telah tiba di Indonesia dan pemerintah telah menjamin keamanannya. Namun anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay mengingatkan pemerintah untuk membuat strategi komunikasi yang efektif sebab sikap masyarakat masih mendua dalam menghadapi vaksinasi.

Di satu sisi, ungkapnya, masyarakat Indonesia sangat optimistis atas kedatangan vaksin ini dan penuh harapan bahwa vaksin ini akan efektif dan mampu menyelesaikan masalah covid-19 di Indonesia. Namun di sisi lain masih ada kekurangpercayaan terhadap keamanan vaksin

"Mereka juga masih kurang percaya terhadap efektivitas dan keamanan vaksin tersebut dalam meningkatkan imunitas masyarakat," kata Saleh dalam keterangan resminya, Senin (7/12).

Ia memprediksi, sikap yang pertama terbangun karena selama ini meyakini seluruh penjelasan yang disampaikan pemerintah. Sementara, sikap yang kedua bisa jadi disebabkan karena belum mendapatkan penjelasan yang utuh. Atau bisa saja, penjelasan selama ini dianggap belum memadai dan belum meyakinkan.

Dalam hal ini Saleh pun menyarankan beberapa hal untuk dilakukan pemerintah. "Pertama, pemerintah harus memastikan keamanan dan efektivitas vaksin tersebut dalam meningkatkan imunitas masyarakat. Dengan begitu, jika vaksin ini diberikan ke masyarakat dapat memberikan manfaat yang besar seimbang dengan anggaran yang dipergunakan untuk pengadaannya," ungkapnya.

Selanjutnya, ia pun merekomendasikan agar BPOM segera dapat melakukan kajian dan penelitian yang mendalam sebelum mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) terhadap vaksin yang masuk tersebut. Saat ini, masyarakat calon pengguna menggantungkan nasib dan harapannya kepada Badan POM. Untuk itu, Badan POM tidak usah terburu-buru dalam memberikan izin. Silakan manfaatkan waktu yang tersedia sebelum memberikan keputusan.

Ketiga, pemerintah dapat melakukan distribusi vaksin secara baik ke seluruh Indonesia. Harus dipastikan bahwa distribusi vaksin dilaksanakan secara aman.

Pasalnya, saat ini, perdebatan soal distribusi vaksin justru terletak pada cold chain (tempat penyimpanan). Ada vaksin yang harus disimpan di tempat yang minus 20 derajat Celcius, dan ada yang minus 7, dan lain-lain.

Keempat, pemerintah diharapkan dapat memberikan penjelasan terkait efektivas vaksin yang baru masuk ke Indonesia ketika dipergunakan di China atau negara-negara lainnya. Success story terkait penggunaan vaksin ini tentu sangat penting dalam memberikan motivasi bagi masyarakat. Ini menjadi penting sebab ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa vaksin ini baru pertama sekali mau dipakai di Indonesia.

Lima, mendata calon penerima vaksin, dan pemerintah dituntut untuk segera menyiapkan tenaga-tenaga medis yang akan melakukan vaksinasi. Sebelum itu, tentu harus ada semacam simulasi dan pelatihan agar tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya. Penyiapan tenaga-tenaga medis ini harus seiring dengan penyediaan sarana prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan vaksinasi.

Terakhir, karena vaksinasi ini dianggap sebagai game changer, diharapkan para ahli epidemologi dapat mengeluarkan pendapat dan perspektif yang dapat dijadikan sebagai referensi. "Pendapat para ahli ini tentu sangat diperlukan agar pelaksanaan vaksinasi tidak menimbulkan perdebatan dan kontroversi di tengah masyarakat," pungkasnya.(H-1)

BERITA TERKAIT