04 December 2020, 02:20 WIB

Berdamai dengan HIV/AIDS


MI | Humaniora

ANGKA penderita HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi, yakni mencapai hampir 650 ribu penduduk. Namun, kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini terbilang kurang. Seperti yang dialami Almira (bukan nama sebenarnya), yang mulanya tidak sadar ia ialah orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Saya tahu HIV/AIDS itu setelah 40 hari suami meninggal. Itu pun tidak secara langsung, ada orang yang memberi tahu saya tentang penyakit suami dan saya diminta untuk cek darah. Hasilnya pun positif,” ungkap Almira yang tinggal di Bandar Lampung.

Menyandang status sebagai ODHA tentu membuat sempat berputus asa dan patah semangat. Namun, anak-anaknyalah yang menyadarkan dirinya untuk tetap semangat dan berjuang hidup.

Berbeda dengan Almira, Elvina Harahap yang telah dinyatakan positif HIV/AIDS lebih berani terbuka tentang penyakit yang dideritanya. Meski ketika masyarakat tahu tentang penyakitnya tersebut, awalnya ia kerap mendapatkan perilaku yang kurang menyenangkan. “Aku terinfeksi HIV/Aids itu tahun 2004, anak saya ada dua dan untungnya mereka dinyatakan negatif,” tutur Elvina.

Dengan melihat diskriminasi yang sering terjadi pada penyintas ODHA, Elvina memilih untuk aktif di komunitas Jaringan ODHA Berdaya yang berada di wilayahnya. Hingga saat ini jaringan ini memiliki ratusan anggota mencakup Provinsi Lampung.

Untuk memperingati Hari HIV/AIDS sedunia yang jatuh pada 1 Desember, Eagle Institute Indonesia mengambil kisah para penyintas ODHA ini yang dirangkum dalam sebuah film dokumenter berjudul Sketsa Dua Kisah.

Film ini menjadi bagian dalam Eagle Awards Documentary Competition. Simak kisahnya pada hari Minggu 6 Desember 2020 pukul 10.30 WIB di Metro TV. (RO/H-3)

BERITA TERKAIT