03 December 2020, 23:25 WIB

Cerita Anggiasari, Penyandang Disabilitas di Dunia Politik


Rifaldi Putra I | Humaniora

MEMPERINGATI Hari Penyandang Disabilitas Internasional yang jatuh pada Kamis (3/12), Politikus berkebutuhan khusus Partai NasDem Anggiasari Puji Aryati berbagi cerita hingga mampu mencapai mimpi untuk terjun ke dunia Politik Indonesia.

Politikus NasDem yang juga pernah mencoba mencalonkan diri sebagai calon legislatif (Caleg) pada Pileg 2019 itu mengungkapkan alasannya berkecimpung di dunia politik sebagai upaya menyuarakan suaranya dan rekan-rekan disabilitas.

"Dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini, kita tahu ada banyak perkembangan bahkan sudah menjadi wacana bersama. Isu disabilitas ini ingin menjadi prioritas dari pembangunan yang sedang dilaksanakan pemerintah," ucap Anggiasari dalam program Nunggu Sunset yang disiarkan di akun Instagram Media Indonesia, Kamis (3/12).

"Kemudian tercetus di kepala, jika memang isu disabilitas ini ingin menjadi program prioritas yang sedang dilaksanakan pemerintah berarti temen-temen disabilitas harus andil di dalamnya. Harus berperan serta sebagai pengambil kebijakan, jadi kita harus benar-benar berada dalam tahap perencanaan pelaksanaan. Dengan demikian, teman-teman disabilitas bisa berpartisipasi secara aktif," tuturnya.

Ia pun memberanikan diri untuk terjun ke dunia politik dan menerima pinangan Partai NasDem. Namun, ia pun tetap aktif di kegiatan lain yakni membantu memastikan sektor-sektor usaha yang dijalankan teman-teman disabilitas menjadi lebih inklusif.

"Jadi beberapa saat lalu ketika saya di Bali, kita memiliki semacam project kecil bersama dengan teman-teman untuk memastikan pariwisata di Bali itu industri-industri kreatif khususnya menjadi inklusif," ungkapnya.

"Jadi project ini kita bawa menjadi sebuah kesempatan untuk memberdayakan temen-temen disabilitas berperan serta meningkatkan sektor pariwisata dan industri kreatif di Indonesia," tukasnya.

Baca juga: Presiden: Pastikan Kebijakan Penyandang Disabilitas Berjalan Baik

Saat ditanya seperti apa tantangan teman-teman disabilitas dalam mencari pekerjaan di Indonesia, Anggiasari mengungkapkan masih kerap ditemukan tindak diskriminatif perusahaan.

Dijelaskannya, dalam peraturan Menteri Ketenagakerjaan dan Undang-undang Ketenagakerjaan sejatinya telah disampaikan paling tidak 1% dari jumlah total tenaga kerja dalam perusahaan itu harus ada penyandang disabilitas, sementara untuk lembaga pemerintahan itu 2%.

"Namun kenyataanya, ketika ada lowongan kerja di suatu perusahaan misalnya sektor keuangan. Masih kerap ditemukan persyaratan harus memiliki tinggi tubuh sekitar berapa misalnya, lalu penampilan harus menarik dan sebagainya. Nah ini secara gak langsung sebuah diskriminasi," ucapnya.

Karenanya Anggiasari berpesan pada teman-teman disabilitas untuk terus kuat menjalani hidup dan jangan pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

"Yang saya ingin katakan adalah terus berjuang, jangan menyerah dan berani, itu adalah kuncinya. Tentunya jangan pernah membandingkan diri kita dengan orang lain," pungkasnya.(OL-5).

BERITA TERKAIT