03 December 2020, 14:20 WIB

Picik kalau Benih Lobster Dilihat dari Sisi Bisnis Saja


Ardi T Hardi | Humaniora

KETUA Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., Ph.D., mengatakan kasus korupsi benih lobster yang merupakan komoditas biodiversitas Indonesia mengambarkan buruknya pengelolaan biodiversitas nasional.

"Para pengampu kepentingan dan pelaku bisnis tanah air selalu melihat potensi biodiversitas sebagai sumberdaya ekonomi semata yang siap dieksploitasi," jelas dia dalam siaran persnya, Kamis (3/12).

Padahal, biodiveristas yanga ada merupakan sumberdaya ekologi yang perlu dikelola dan dilestarikan bersama. Apabila cara pandang para pemimpin politik dan pemangku kepentingan bangsa kita hanya melihat sumber daya alam khsususnya biodiversitas sebagai sumberdaya ekonomi semata maka akan merusak dan memusnahkan biodiversitas kita.

"Benur merupakan bayi-bayi lobster tapi karena kita tidak sabar dan fokus menjadi prioritas riset dalam membudidayakan benur-benur lobster yang umumnya hanya ada di lingkungan alam untuk  dipelihara menjadi lobster dewasa yang harganya ratusan ribuan kali lipat dibanding benurnya," papar Dekan Fakultas Biologi UGM ini.

Budi menyampaikan jika negara-negara pengimpor benur lobster adalah pusat-pusat riset lobster dengan tujuan jangka panjang dapat mengembangkan budidaya lobster. Dengan begitu di masa depan akan menjadi pusat produksi Lobster. Negara-negara tersebut juga telah berhasil membudidayakan ikan salmon sebagai industri perikanan tanpa mengganggu sumber ikan salmon di alam liarnya.

"KOBI prihatin dengan cara pandang dan perilaku predasi para pemangku kekuasaan serta  pengusaha dalam menguras biodiversitas kita. Kedepan seyogianya cara pandang terhadap Biodiversitas diubah dengan menghargai, mengelola dengan bijak dan melestarikan biodiversitas termasuk lobster agar dapat dimanfaatkan dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya," pungkas dia. (OL-13)

Baca Juga: Luhut: Nelayan Pesisir Selatan Rasakan Manfaat Ekspor Benur

 

BERITA TERKAIT