03 December 2020, 14:15 WIB

Pantau Covid-19 Melalui Aplikasi Kesehatan Berbasis AI


Faustinus Nua | Humaniora

Pemanfaatan aplikasi digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) terus berkembang di Infonesia. Pada masa pandemi covid-19 para peneliti dan pakar informatika tengah mengembangkan teknologi tersebut untuk membantu penanganan krisis.

Zaenal Akbar dari Pusat Penelitian Informatika LIPI mengatakan bahwa pihaknya kini tengah mengembanhkan aplikasi digital di sektor kesehatan. Berbasiskan kecerdasan buatan, pihaknya membantu memberi informasi terkait penyebaran covid-19.

Baca juga: Langgar Prokes, Kampus Akan Dilarang Kuliah Tatap Muka

"Kami sejak awal tahun mendesain apa yang disebut 'Ricover'. Kami sebut pemanfaatan teknologi social sensing. Ini kami kumpulkan informasi dari masyarakat, media masa, media sosial, aplilasi mobile dan lain-lain untuk dianalisa," terangnya dalam diskusi Klaster Deteksi Berbasis Machine Learning, Kamis (03/11).

Dia menjelaskan, informasi yang dikumpulkan dan dianalisis untuk dibuat pemetaan penyebaran covid-19. Kemudian, pemetaan tersebut bisa diakses masyarakat, sehingga meningkatkan kewaspadaan publik.

"Dengan menggunakan kecerdasan buatan denga truth finder. Kejadian apa, di mana, kapan dilaporkan, oleh siapa, melalui media apa. Harapan kami bisa memetakan, saat ini masih pemetaan sederhana ke depan mungkin lebih detail," tuturnya.

Baca juga: Jokowi Minta Penyandang Disabilitas Disetarakan

Dalam upaya meningkatkan keakuratan pemetaan, lanjutnya, informasi dari masyarakat sangat dibutuhkan. Mengingat, di masa pandemi ini kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan. "Ini bukan soal kesehatan individu, tapi kesehatan secara kolaboratif," tambahnya.

Dia menambahkan, lantaran pertisipasi masyarakat bersifat sukarela, hal itu mejadi tantangan pihaknya.

Sementara itu, Husnul Khotimah Digital Epidemiology LIPI mengatakan bahwa dia bersama peneliti lainnya dan berkolaborasi dengan STEI ITB, juga tengah mengembangkan platform digital yang bisa membantu penanganan pandemi. Mereka menggabungkan informasi formal dan informal sebagai peringatan dini terhadap penyakit menular.

"Kami memperhatikan potensi berita online menjadi digital epidemiology. Ini menjadi signal peringatan sehingga bisa direspons pemangku kebijakan," ungkapnya.

Untuk saat ini, platform tersebut masih berbasiskan pada sumber google trends.

Pengembangan platform, lanjutnya, dilakukan bertahap. Ditarget pada tahun 2023, tahapan pengembangan bisa diselesaikan dan mampu memberi informasi secara detail.(H-3)

BERITA TERKAIT