03 December 2020, 05:35 WIB

Denia Isetianti Permata Tanggung Jawab Lingkungan dari Rumah


Deden Muhammad Rojani | Humaniora

MENGURANGI atau mengolah sampah sejak dari rumah memang sudah banyak dilakukan. Namun, bagaimana dengan menggunakan energi terbarukan, membuat sumur resapan, dan mengolah grey water?

Meski teknologi-teknologinya sudah tersedia, belum banyak orang yang menerapkannya di rumah. Penerapan teknologi energi terbarukan hingga pengolahan grey water di rumah memang membutuhkan budget khusus dan juga penyesuaian desain rumah.

Maka langkah yang dilakukan pasangan Denia Isetianti Permata dan Aldy Mardikanto pantas diapresiasi. Mereka membangun rumah yang memiliki sistem penampungan air hujan, sumur resapan, daur ulang grey water dan penggunaan energi terbarukan dengan solar panel.

"Dengan memiliki minisponsible house, saya sendiri mencoba bertanggung jawab untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan dengan kita lebih banyak menempatkan fitur ramah lingkungan," tutur Denia saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (17/11). Ia dan suami menamakan rumah itu sebagai minisponsible house karena berukuran 4,5 x 8 meter yang dibangun di atas lahan 4,5 x 11 meter.

Pembangunan rumah yang berlokasi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu menghabiskan waktu setahun hingga akhirnya dapat mereka tempati pada Agustus 2020. Denia mengaku biaya pembangunannya mencapai Rp500 juta, atau berkisar hingga Rp4 juta per meter. Menurutnya, biaya yang tidak termasuk biaya untuk solar panel itu lebih murah sekitar 40% dari biaya pembangunan rumah umumnya karena menggunakan beberapa material daur ulang.

Berprofesi sebagai pengacara, Denia mengungkapkan bahwa kepedulian dan pengetahuannya soal lingkungan dipupuk dari berbagai aksi lingkungan yang ia ikuti. Ibu dua anak itu pun sejak 2018 mendirikan e-commerce peduli lingkungan, Cleanomic.

Dari beragam kegiatan lingkungan itu ia melihat jika rumah yang hemat sumber daya sangatlah penting. Sebab kegiatan di rumah turut menyumbang emisi karbon yang besar, khususnya dari penggunaan listrik.

Ia pun mengutip data yang yang dikeluarkan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa'Bangsa (UNEP) dan sejumlah studi yang menyebutkan jika sektor hunian mengambil 22 % dari penggunaan energi oleh manusia

"Mungkin angkanya tidak banyak kalau dibandingkan dengan sumber emisi lainnya. Tapi ternyata tetap berkontribusi. Sesedikit apa pun, rumah kita tetap berkontribusi terhadap pelepasan emisi gas rumah kaca. Dan yang sedikit-sedikit ini, lama-lama bisa jadi gunung," tambahnya.

 

Turunkan listrik

Untuk pembangunan rumahnya, Denia mengaku mengikuti konsep redu house. Konsep ini telah banyak diperbincangkan sejak 2019 dan merupakan inisiasi Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang dikembangkan dengan menggandeng arsitek Rahmat Indrani. Redu house merupakan konsep desain yang mereduksi semua elemen arsitektur mulai dari konstruksi sampai ke gaya hidup penghuninya.

Soal solar panel, Denia mengaku menginstalasi solar panel dengan daya 3.500 KWh. Daya itu dirasakannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan sudah dapat membantu menurunkan biaya listrik PLN hingga 50%. Meski begitu ia mengakui tidak mengetahui dengan pasti angka penurunan emisi yang dicapai dari Minisponsible House itu.

Untuk pengolahan air limbah, Denia menuturkan jika air buangan dari kamar mandi dan cuci piring dialirkan ke satu bak reservoir. Setelah melewati sistem penyaringan, grey water itu disalurkan untuk flush toilet.

"Kita juga menampung air hujan. Nah menampung air hujan itu kita juga punya sistem sendiri. Yang air hujan itu tuh ditampung, masuk ke bak reservoir yang sama dengan grey water tadi, untuk kemudian disaring dan digunakan lagi," tambahnya.

Selain daur ulang air dan penggunaan energi sinar matahari, Denia memaksimalkan gaya hidup hijaunya dengan memakai metarial konstruksi dan barang-barang hasil daur ulang. Kayu bekas digunakan untuk lantai, perangkat dapur, dan beberapa furnitur yang didesain khusus.

Langkah ini tentunya membuat Denia dan suami harus menyiapkan budget berbeda, namun pada akhirnya, menurutnya, biaya hidup bisa ditekan. Terlebih ada keuntungan yang tidak dapat dinilai dengan materi.

"Memang betul ada biaya-biaya tambahan untuk mengimplementasikan fitur ramah lingkungan itu. Tapi menurut aku biaya-biaya tersebut itu bisa dikompensasikan dengan yang lain. Hal yang lain itu ialah bebas dari perasaan bersalah pada bumi," tukasnya.

Di sisi lain,baginya upaya penghematan energi di rumah juga dapat dilakukan dengan cara sederhana. Contohnya, dengan mengalirkan air hujan dari atap ke suatu penampungan dengan menggunakan paralon. Hanya dengan material sederhana itu, kita sudah dapat menghemat air untuk menyiram tanaman atau membersihkan halaman. Denia berharap langkah yang ia lakukan dapat dilakukan keluarga lainnya, meski tidak dengan cara yang sama. (M-1)

BERITA TERKAIT