01 December 2020, 20:52 WIB

Jangan Tutup Mata dari HIV/AIDS di Papua


Retno Hemawati | Humaniora

Peringatan hari AIDS Sedunia pada 1 Desember, mengingatkan kita bahwa penanganan HIV/AIDS di Indonesia masih jadi pekerjaan rumah besar. Salah satunya di Provinsi Papua yang tercatat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak.

Data terakhir kasus AIDS dalam laporan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes per 12 Agustus 2020 mencatat lima provinsi dengan kasus AIDS terbanyak adalah: Papua 23.629, Jawa Timur 21.016, Jawa Tengah 12.565, DKI Jakarta 10.672 dan Bali 8.548.Sedangkan untuk lima provinsi dengan kasus HIV terbanyak ditempati DKI Jakarta 68.119, Jawa Timur 60.417, Jawa Barat 43.174, Papua 37.662, dan Jawa Tengah 36.262.

Yayasan AIDS Indonesia juga punya angka terbaru di tiga besar provinsi ini. Menurut organisasi nirlaba yang peduli terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan penaggulangan epidemi AIDS ini menyebut, Papua memiliki 23.639 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), disusul Jawa Timur 21.128 lalu Jawa Tengah dengan 12.988.           

Menilik hal ini, sudah seharusnya upaya pencegahan penularan HIV/AIDS tetap terus dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Lantaran pandemi tak memperkecil jumlah penderita. Jika tidak dilakukan langkah konkret, penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi sebagai ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ledakan angka penerita AIDS.

Dari data Kemenkes tersebut, Provinsi Papua masih menjadi provinsi yang memiliki angka penderita AIDS tertinggi. Hal ini tentu saja membutuhkan effort khusus, apalagi dengan karakteristik wilayah dan masyarakat Papua. Dimana bagian tengah Provinsi Papua merupakan daerah dataran tinggi dengan kelompok penduduk yang secara etnis dan sosioekonomi berbeda dari penduduk di wilayah pesisir. Wilayah pesisir bagian Selatan terdiri dari kota-kota kecil yang sulit dicapai melalui jalan darat. Prevalensi HIV, perilaku seks, pencarian layanan kesehatan, serta akses terhadap layanan juga bervariasi antar wilayah.

"Memang perlu skil khusus dalam kampanye pencegahan dan penyuluhan tentang HIV/AIDS ini. Upaya ini juga harus dilakukan dengan semua stakehodler terkait. Tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri," ujar Wakil Ketua Umum Yayasan AIDS Indonesia, Shinta W Kamdani di Jakarta, Senin (30/11).

Dari kacamata Yayasan AIDS Indonesia, penyebab angka ODHA Papua masih tinggi, selain karena wilayah geografisnya, juga lantaran masih minimnya pengetahuan masyarakat akan HIV/AIDS.

"Edukasi dan akses terhadap pengobatan yang masih kurang. Ini pekerjaan rumah yang harus diselesaikan semua stakeholder di Papua," ujar Shinta.

Ia tak menampik jika peran prilaku juga mempengaruhi penyebaran HIV/AIDS. Namun kembali lagi, pengetahuan yang terbatas membuat masyarakat di Papua tak menyadari jika prilakunya itu beresiko akan penularan HIV/AIDS. "Edukasi harus jalan terus, jangan nunggu sampai sakit," ucap Shinta.

Dirinya pun melihat, di masa pandemi Covid-19 yang menguras seluruh perhatian ini, upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sedikit terkendala.

"Kami hanya bisa melakukan kampanye melalui temu online karena tidak bisa bertatap muka langsung. Lalu di pendistribusian ARV juga, karena semua terpusat pada penanggulangan wabah Covid-19," paparnya.

Pemerintah seniri di masa pandemi Covid-19 telah mengeluarkan protokol pelaksanaan layanan HIV/AIDS. Selain itu, dilakukan juga penilaian layanan melalui survei cepat untuk mendapatkan gambaran layanan HIV/AIDS sekaligus informasi ODHA yang terinfeksi Covid-19. (RO/OL-12)

 

BERITA TERKAIT