30 November 2020, 04:55 WIB

Bangun Masa Depan Anak dengan Buku


Atalya Puspa/H-2 | Humaniora

KURANGNYA minat dan budaya membaca anak-anak membuat Abduloh berinisiatif untuk mendirikan Taman Baca Haidar pada 2013. Ia ingin anak-anak dapat tetap dekat dengan buku, daripada menonton televisi atau asyik dengan gawainya.

“Gagasan yang terwujud sudah barang tentu diiringi dengan kepedulian, jiwa kerelawanan, tulus, dan ikhlas. Kami tidak berpikir muluk akan sebesar apa nanti taman bacaan ini setelah berjalan,” ucap Abduloh kepada Media Indonesia, Jumat (27/11).

Sehari-harinya, operasional Taman Baca Haidar dibantu istri Abduloh dan 12 relawan dari kalangan anak muda di sekitar tempat tinggalnya.

“Koleksi buku kami dapatkan dari Perpustakaan Nasional RI, penerbit, donatur perorangan, dan pertukaran antarkomunitas/taman baca,” ujarnya.

Setelah 7 tahun berdiri, menurut Abduloh, sudah ada 1.200 buku yang dikoleksi Taman Baca Haidar, mayoritas buku anak. Bahkan, tak sedikit donatur yang mengirimkan bukunya.

Anak, kata Abduloh, harus tahu bahwa membaca buku sama dengan membangun masa depannya. Untuk menarik minat baca mereka, taman baca ini juga mengadakan diskusi dan mendongeng. Pada 9 Februari 2020 lalu pihaknya juga membuat program Ngi­der Ka Lembur, mengunjungi Kampung dengan menggelar lapak buku pada libur, namun terhenti sementara di awal pandemi covid-19.

Dengan menerapkan protokol kesehatan covid-19, aktivitas berlanjut kembali dari kampung ke kampung, misalnya, saat perayaan 17 Agustus 2020 lalu.

“Hadiah kemerdekaan membaca 2 judul buku mendapatkan 1 buah buku,” cuit pengelola Taman Baca Haidar dalam akun Instagram-nya.

Abduloh mengakui ada satu keinginannya yang belum terwujud saat ini, yakni adanya gedung perpustakaan kampung dan ruang bermain anak. (Atalya Puspa/H-2)

BERITA TERKAIT