27 November 2020, 09:55 WIB

Belajar Bijak Dari Kampung Naga


mediaindonesia.com | Humaniora

KAMPUNG Naga, sebuah kampung adat Sunda di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung seluas 1 hektare itu berdiri 113 bangunan, dan dihuni oleh 108 kepala keluarga (KK) dengan 300 jiwa.

Posisi Kampung Naga di sebelah timur Kabupaten Garut dengan jarak tempuh 26 km. Atau sebelah barat dari Tasikmalaya berjarak 45 km.
Kisah bersejarah kampung ini diawali pada 1956 selepas warganya menunaikan salat isya hingga waktu subuh. Warga dikagetkan dengan kobaran api yang melalap ratusan rumah. Korban jiwa dan harta benda pun tak terelakkan.

Juru Pelihara Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (BPCBB), Ucu Suherlan mengisahkan akibat kejadian tersebut membuat warga Kampung Naga shock. Mereka berhamburan ke pinggir kampung, ada yang lari dan  bersembunyi di kandang kambing, semak-semak, hingga ke hutan.

Hingga diketahui kebakaran besar tersebut akibat taktik bumi hangus yang dilakukan oleh kelompok DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo.

"Warga Kampung Naga membersihkan puing-puing sisa kebakaran dan kembali membangun rumah mereka dengan bantuan warga lainnya," katanya, Kamis (26/11).

Dalam kurun waktu setahun dari kejadian tersebut, ada beberapa warga yang mengikuti pelatihan militer, belajar cara menembak dan berperang dengan nama barisan keamanan atau pagar desa. "Selama ada Barisan Keamanan tidak ada serangan yang dilakukan kelompok DI/TII," kata Ucu.

Adik kandung Ade Suherlin salah seorang Kuncen Kampung Naga ini mengaku terlibat langsung dalam kejadian bersejarah itu.
Bahkan ia lantas didaulat antara lain sebagai pemangku adat (kuncen), lebe (menangani bidang keagaman) dan punduh.

Kini Kampung Naga dikenal sebagai kampung yang damai. Panorama di sana sangat indah.Banyak pepohonan hijau di atas bukit hingga sejuk dan menenteramkan hati.

Bila pagi hari, saluran air yang gemercik menuju persawahan dan kolam-kolam ikan terjaga dengan rapih.Kehidupan sosialnya juga sangat harmoni. Warganya rukun dan selalu sopan menyambut pengunjung tanpa membedakan bawaan alamiah, suku, agama dan warna kulit.

Menurut Ucu, warga Kampung Naga selama ini masih tetap melestarikan kearifan lokal khususnya kebudayaan mereka. Misal, nilai adat kampung tidak melarang mereka beradaptasi dengan dunia luar meski mereka hingga saat ini masih tetap menolak jaringan listrik dan gas elpiji untuk kesehariannya.

"Sejak dahulu hingga sekarang kami tetap menjaga nilai budaya. Warga di sini juga tetap memiliki toleransi yang tinggi, suka bergotong royong dengan membantu sesama dan juga saling menolong satu sama lainnya mengacu pada hukum adat yang berlaku," ujarnya.

Kearifan lokal lain yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong. Mereka juga bangga dengan struktur kampung yang memiliki pola kehidupan sederhana dengan ikatan kekeluargaan yang kuat.

Saat menjelang maghrib, kisah Ucu, warga hanya menyalakan cempor, obor dan patromak. Untuk memasak mereka tetap menggunakan tungku dengan kayu bakar namun mereka tidak sembarang memotong bambu di lahan hutan alam maupun hutan keramat.

Kampung Naga sejak dulu sampai sekarang ini masih menyakini warisan leluhur dengan istilah 'pamali' atau 'tabu', karena pantangannya harus dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari dan berbagai aktivitas kehidupannya merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis namun demikian harus dipatuhi karena terbukti menimbulkan kemaslahatan bersama.

Tidak berlebihan jika Kampung Naga mendapat penghargaan di antaranya terpilih sebagai pemenang Green Gold kategori Pelestarian Budaya Lingkungan dari Kementerian Pariwisata dan Indonesia Suistainable Tourism Awards (ISTA) Festival 2019 serta penghargaan lainnya.(AD/H-1)

BERITA TERKAIT