28 November 2020, 00:55 WIB

Pers Minim Sorot Sisi Perempuan


(Wan/H-1) | Humaniora

DAMPAK dari pandemi covid-19 semakin menempatkan posisi perempuan sebagai kelompok yang rentan terhadap tindak kekerasan berbasis gender.

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga, penting untuk menggaungkan perlindungan dan pemberdayaan perempuan di masa pandemi saat ini. “Sinergi kuat antarsektor harus terus dilakukan. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, media massa, dan masyarakat harus mengambil peran masing-masing. Media massa juga berperan menyosialisasikan isu ini,” kata Bintang dalam diskusi virtual bertema Pandemi covid-19 dan perlindungan perempuan. Bagaimana peran pers?, kemarin.

Bintang melanjutkan, perempuan sebenarnya punya peran sentral dalam rumah tangga, seperti memastikan kondisi kesehatan keluarga sebagai agen yang
penting dalam kampanye disiplin protokol kesehatan.

Sinergi kuat antarsektor harus terus dilakukan. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, media massa, dan masyarakat harus mengambil peran masing masing.

Adanya kenaikan kasus kekerasan dalam rumah tangga dalam tahun ini sebagai bukti bahwa perempuan masih dalam posisi yang dirugikan. Kementerian
PPPA mencatat terdapat 8.114 laporan kekerasan terhadap anak dan perempuan, 21,5% ialah kekerasan dalam rumah yang dilakukan anggota keluarga.

Sementara itu, Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Dewan Pers, M Agung Dharmajaya, menjelaskan bahwa perempuan ialah market besar
media, tapi ironinya media sering kali melupakan kebutuhan perempuan. “Pemberitaan memiliki nilai positif bagi perempuan, tapi media juga memberitakan
kekerasan yang dialami perempuan,” katanya.

Menurut Agung, media harus memberikan perhatian khusus pada meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan selama pandemi. Pemberitaan yang diharapkan ialah memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat. Mendorong perilaku yang baik seperti apa terhadap perempuan,” tegasnya. (Wan/H-1)

BERITA TERKAIT