26 November 2020, 05:00 WIB

Pantang Menyerah Hadapi Pandemi


Faustinus Nua | Humaniora

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mendorong insan pendidikan agar dapat menjadikan pandemi covid-19 sebagai laboratorium bersama untuk menempa mental pantang menyerah dan mengembangkan budaya inovasi.

“Saya sangat percaya bahwa selalu ada hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Banyak pemangku kepentingan di bidang pendidikan bahu-membahu, bergotong royong mengatasi kompleksitas situasi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya,” ujar Nadiem dalam upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2020 di Jakarta, kemarin.

Data UNESCO mencatat lebih dari 90% atau di atas 1,3 miliar populasi siswa global harus belajar dari rumah. Pendidikan hampir satu generasi di dunia terganggu. Akibat pandemi pula, jutaan pendidik dituntut untuk bisa melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah.

Mendikbud pun sangat meng­apresiasi dedikasi dan kesungguhan para guru untuk terus bergerak mencari solusi agar proses belajar anak-anak Indonesia tidak terhenti.  

Di sisi lain, Mendikbud juga mengangkat topi untuk para orangtua yang begitu aktif terlibat mendampingi anak saat belajar dari rumah dan menjadi guru bagi anak mereka.

“Ini adalah bukti bahwa kita semua adalah ahli waris semangat para pejuang yang tidak mau menyerah dengan keadaan. Kita mampu beradaptasi dengan terus belajar, berbagi, dan berkolaborasi,” ucap Nadiem optimistis.

Kesejahteraan guru

Dalam momentum Hari Guru Nasional 2020, Mendikbud Nadiem Makarim juga mempertegas komitmennya untuk memperjuangkan hak para pendidik, antara lain lewat program bantuan subsidi upah (BSU) untuk guru dan tenaga kependidikan non-PNS dan seleksi 1 juta guru honorer menjadi guru pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

BSU senilai Rp1,8 juta per ­orang akan dicairkan bagi lebih dari 2 juta penerima. Selain guru-guru honorer, para operator sekolah seperti tenaga administrasi non-PNS pun ikut menerima dana tersebut.

“Semua operator sekolah dan tenaga pendidik mendapatkan. Jadi, sasaran kita sedikit di atas 2 juta orang, kebanyakan adalah guru ho­norer,” kata Mendikbud.

Dia menjelaskan anggaran yang dialokasikan untuk BSU sebesar Rp3,6 triliun yang dicairkan bertahap mulai November 2020 hingga 30 Juni 2021. Melalui BSU tersebut, Kemendikbud berusaha membantu para tenaga pendidik yang terdampak oleh pandemi agar aktivitas pengajaran mereka bisa tetap berjalan, di samping memulihkan krisis kesehatan dan ekonomi.

Koordinator Nasional Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengapresiasi kedua program itu.

“Banyak guru honorer yang upahnya hanya Rp500 ribu-Rp700 ribu per bulan. Di sisi lain mereka tetap dituntut sempurna dan profesional dalam melaksanakan tugas. Kami sangat sedih, honor guru honorer ini horor, ini sangat tidak manusiawi,” ungkapnya.

Ia pun mendorong pemda untuk memberikan upah guru honorer minimal setara UMP/UMR sehingga kisah guru ho­norer yang tragis sebab kese­jahteraannya sangat minim tidak terjadi lagi. (Medcom.id/H-2)

BERITA TERKAIT