26 November 2020, 01:05 WIB

Vaksinasi, Harapan di Dunia Seni


Fathurrozak | Humaniora

PANDEMI covid-19 yang telah berjalan lebih dari sembilan bulan juga berimbas pada ranah seni dan budaya. Hasil survei Federasi Serikat Musisi Indonesia (FSMI) di 22 provinsi, menunjukkan, musisi di sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeca) yang paling banyak terdampak.

Dalam upaya mencari jalan baru pada interaksi dan kerja kesenian, vaksinasi menjadi salah satu harapan pada masa mendatang. Seniman sebagai individu dan kelompok juga memiliki akses luas untuk mengampanyekan pesan mengutamakan keselamatan dan kesehatan.

Demikian hasil Focus Group Discussion (FGD) Kebangkitan Industri Seni, Musik, dan Kreatif Menuju Mengarusutamaan Vaksin Covid-19, secara virtual kemarin.

Tampil sebagai pembicara pada acara yang diselenggarakan Media Indonesia itu, Direktur Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Nyak Ina Raseuki, Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Danton Sihombing, Ketua FSMI Chandra Darusman, Ketua Umum Federasi Pekerja Seni Indonesia (FPSI) Mujib Hermani, dan pencipta lagu/ penyanyi dangdut, Ageng Kiwi.

Menurut Danton, bukan hanya produk jadi seni secara artistik yang terdampak, melainkan seluruh rangkaian kerja seni dari produksi hingga pasarnya tidak terhindarkan dari pengaruh pandemi.

“Situasi ini sebagai unprecedented disruption. Situasi saat ini juga menjadi akselerator pada situasi-situasi yang sebelumnya sudah berjalan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, maraknya muncul ruang-ruang virtual sebagai alternatif ekspresi kesenian yang dilakukan banyak pelaku kesenian. “Ini menjadi salah satu studi kasus. Semakin lama pandemi berjalan, semakin lama pula kebiasaan baru itu diakrabi. Tetapi, bicara mengenai kehadiran vaksin, bisa jadi akan menggeser hal-hal yang sudah berjalan itu. Akan memikirkan dan mengimajinasikan ulang,” tambah Danton.

 

Kultur baru dan inovasi

Nyak Ina Raseuki menyebut semua pihak yang ada di ranah kesenian saat ini tengah mencari jalan keluar. Ia melihat akan timbul kultur baru dan berlaku seterusnya (menetap), alih-alih bersifat sementara.

“Selain melakukan tes usap atau antigen sebagai salah satu prasyarat sebelum bertatap muka dalam kegiatan seni, jalur lain yang juga dinantikan adalah upaya vaksinasi,” tambah Ubied, demikian Nyak Ina biasa disapa.

Di dunia pendidikan, lanjutnya, pihaknya tengah memahami perubahan yang sedang terjadi, dan kelak mungkin juga bisa memberikan gambaran dan bisa jadi rekomendasi pada para pihak otoritas terkait.

Sementara itu, Chandra Darusman mengatakan, dalam catatan FSMI, dari 1.400 responden (musisi) di 22 provinsi, rata-rata berpenghasilan Rp3,1 juta-Rp5 juta sebanyak 24.6%. Dari survei itu, juga didapat, musisi didominasi dari sektor Horeca sebanyak 34.3%.

“Atas kondisi tersebut, FSMI menjembatani penyaluran berbagai bantuan sosial yang digalang dari berbagai kalangan untuk kalangan musisi yang berada pada kelompok rentan,” ujarnya.

Chandra mengakui dengan semua keterbatasan di masa pandemi covid-19, sisi positifnya adalah muncul inovasi pertunjukan musik di ranah digital. Produksi musik juga meningkat, sehingga banyak repertoar, single bermunculan, dan mengimbangi keluaran karya di platform musik streaming. Selain itu, juga muncul kolaborasi, dan gotong royong. Kata kuncinya adalah survival.

Lebih lanjut, Ubied dan Danton menambahkan, menambahkan vaksin adalah salah satu jalan yang paling diharapkan saat ini. Dengan hadirnya vaksin, semangatnya adalah supaya bumi sembuh. (X-7)

 

BERITA TERKAIT