24 November 2020, 03:15 WIB

Ade Rai Atur Pola Makan dengan Berpuasa


Zubaedah Hanum | Humaniora

MENJAGA tubuh tetap sehat dan bugar itu penting, terlebih di saat pandemi covid-19 saat ini. Mantan atlet binaragawan Ade Rai, 50, mengaku menerapkan cara-cara sederhana dan alami dalam menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya.

“Tubuh adalah akumulasi dari makanan yang dikonsumsi. Sumber, penyajian, jadwal, dan jumlah yang kita konsumsikan berperan dalam mendekatkan kita pada sehat atau sakit,” kata Ade Rai di akun Instagram-nya, Sabtu (21/11).

Ia pun mengajak pengikutnya yang berjumlah lebih dari 432 ribu orang itu untuk cerdas memilih makanan sebelum memasukkannya ke  tubuh. “Mulut adalah sumber kesehatan dan sumber kesakitan,” sebutnya.

Untuk mencegah tubuh terlalu banyak makan, Ade Rai melakukan puasa dengan tujuan membatasi waktu makannya. Puasa  dilakukannya dari malam ke pagi atau malam ke siang.

“Jadi, makan terakhir pukul 8 atau 9 malam, terus baru makan lagi pukul 8 atau pukul 9 pagi. Kalau bisa, kita mau langsung ke makan siang, berarti lebih lama lagi,” urai pemilik nama I Gusti Agung Kusuma Yudha Rai itu dalam diskusi kesehatan yang digelar virtual, Minggu (22/11), seperti dikutip dari Antara.

Dengan membatasi jumlah makanan yang masuk, kata Ade Rai, tubuh secara otomatis akan menggunakan cadangan lemak sebagai tenaga.
Jika tidak, lemak itu akan tertimbun dan terus menumpuk.

“Pada saat kita enggak ada makanan, lemak itu yang nanti akan keluar. Tapi karena kita ada makanan, yang di lemak itu tertimbun terus,” terang Ade Rai.

Ade membeberkan empat hal yang menjadi prinsipnya sebelum mengonsumsi makanan, yaitu apa sumbernya, bagaimana penyajiannya, kapan waktu makannya, dan berapa banyak yang harus dimakan.

Dari empat prinsip yang dipegangnya itu, laki-laki berdarah Bali ini menganggap sumber dan penyajian makanan ialah dua hal paling penting. Ia mencontohkan menu makan berisi nasi merah, pepes ayam, potongan tomat, timun, daun selada, dan sambal.

Kenapa nasi merah? Kata Ade Rai, indeks glikemik beras merah lebih rendah, tetapi serat tinggi. Lalu, pepes ayam menggunakan bahan alami seperti salam, sereh, dan bawang. Dengan bahan alami pepes, ujar Ade, otomatis tidak ada tambahan lemak. Protein tinggi, lemaknya rendah.

Bagaimana dengan waktu penyajiannya? Ade memaparkan penyajian menu itu sangat pas untuk buka puasa setelah intermittent fasting atau makan malam. Jika digunakan sebagai menu sarapan, bisa dimakan tanpa nasinya. “Jadi, ingat, ya, teman-teman, dengan kita kreatif, kita bisa menikmati pola makan kita,”  tegas Ade.


Alami

Ade Rai juga menyarankan untuk mengurangi konsumsi makanan yang mengandung karbohidrat dan mulai memperbanyak konsumsi makanan mengandung protein dan lemak alami.

“Kebanyakan makan kita memang lebih kepada sumber lemak process food. Itu bukan sumber baik buat badan. Tapi kalau yang alami seperti minyak kelapa, kuning telur, minyak ikan, kacangkacangan, avokado,” paparnya.

Buah dan sayur-sayuran juga sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Bagaimana dengan suplemen makanan? Ade Rai menyatakan suplemen ialah tambahan, bukan food solution.

“Kalau bicara suplementasi, kita harus bijaksana. Ada suplemen yang sangat baik memberikan kemudahan dan kenyamanan meningkatkan kualitas kesehatan kita,” pungkas laki-laki kelahiran Jakarta, 6 Mei 1970 itu. (H-2)
 

BERITA TERKAIT