23 November 2020, 11:15 WIB

Berapa Level Stres Anda? Cari Jawabannya dengan Aplikasi De-Stres


Zubaedah Hanum | Humaniora

SEJUMLAH dosen dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, menciptakan sebuah aplikasi bernama De-Stres yang bisa mendeteksi secara dini gangguan jiwa pada diri seseorang. Aplikasi ini bisa diunduh secara gratis melalui platform Google Store di Android.

Aplikasi De-Stres berfungsi untuk memonitor tingkat stres seseorang secara berkala. Dengan demikian, pengguna bisa mengetahui apakah dirinya berada pada kondisi stres atau tidak?

"Ini bertujuan untuk mencegah stres yang berkepanjangan. Sebab, stres berkepanjangan akan dapat menimbulkan depresi. Aplikasi berbasis Android ini bisa digunakan mahasiswa ataupun masyarakat luas untuk mendeteksi tingkat stres secara efektif dan mudah,” kata dosen Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Irma Melyani Puspitasari, MT, PhD, dikutip dari laman Unpad, Senin (23/11).

Irma mengembangkan aplikasi ini bersama dua dosen lainnya, yaitu Rano K Sinuraya, MKM, Apt, (Fakultas Farmasi) dan Witriani, MPsi, Psikolog, (Fakultas Psikologi). Pembuatan aplikasi dirintis sejak 2019 lalu.

Idenya didapat dari banyaknya kasus mahasiswa yang mengalami gangguan mental. Tidak hanya mengganggu prestasi akademik, kata Irma, masalah ini juga berakibat pada penuruna kondisi fisik dan mental. Bahkan tidak jarang berujung pada bunuh diri.

Secara teknis, aplikasi ini berisi kuesioner yang dapat diisi oleh pengguna. Ada dua modul kuesioner yang tersedia. Satu modul untuk mengukur tingkat stres, sedangkan satu modul lagi untuk mengukur tingkat depresi. "Secara berkala, nanti di aplikasi akan ada history-nya. Idealnya bisa digunakan sebulan sekali," terangnya.

Menurut Irma, pengguna De-Stres cukup memerlukan waktu sekira 5-10 menit untuk menjawab kuesioner yang diadaptasi dan divalidasi dari instrumen Perceived Stress Scale-10 (PSS-10) untuk modul tingkat stres, serta instrumen Beck Depression Inventory-II untuk modul tingkat depresi.

Hasil dari kuesioner tersebut akan menentukan apakah pengguna berada pada kategori stres ringan, sedang, atau berat. Aplikasi akan memberikan hasil kuesioner menggunakan jarum yang menunjuk pada warna tertentu, yaitu dimulai dari hijau hingga merah.

"Bila jarum menunjuk ke warna cenderung merah, maka pengguna dikategorikan mengalami stres cukup berat," sebut Irma yang juga dosen pengajar mata kuliah Farmakoterapi Gangguan Syaraf dan Psikiatri itu.

Jika hasil menunjukkan kadar stres besar, kata Irma, aplikasi akan memberikan saran bagi pengguna untuk mengatasi permasalahan mental tersebut. Saran tersebut dimulai dari dorongan kepada pengguna untuk menceritakan permasalahannya kepada orang yang dipercaya hingga menyarankan untuk mendatangi profesional psikolog atau psikiater (dokter spesialis kesehatan jiwa).

"Kenyataan di lapangan, banyak mahasiswa ataupun masyarakat yang tidak terdeteksi memiliki gangguan kesehatan mental. Hal ini yang menyebabkan banyak kasus bunuh diri diakibatkan stres yang berujung pada depresi," imbuh Irma.

Karena mudah digunakan, aplikasi De-Stres telah banyak digunakan oleh ribuan pengguna. Irma juga menerapkan aplikasi ini ke dalam mata kuliah yang diampunya. (H-2)

BERITA TERKAIT