20 November 2020, 14:15 WIB

Sri Kurnia, Koleksi Baru Lumba-Lumba Taman Satwa Pantai Cahaya


Zubaedah Hanum | Humaniora

KOLEKSI lumba-lumba Indonesia bertambah setelah lahirnya Sri Kurnia dari jenis Tursiops aduncus di Taman Satwa PT Wersut Seguni Indonesia (WSI) atau lebih dikenal dengan The Sea Pantai Cahaya di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Lumba-lumba tersebut merupakan hasil breeding satwa dilindungi yang dilakukan oleh Taman Satwa PT  Wersut Seguni Indonesia (WSI) dari induk jantan Suarez dan betina Camelia. Camelia berhasil melahirkan bayi pada tanggal 29 Juni 2020 berjenis kelamin betina.

"Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai KSDA (BKSDA) Jawa Tengah telah melakukan pemeriksaan kelahiran Lumba-Lumba (Tursiops Aduncus) berdasarkan Berita Acara Nomor: BA.1849/K.21-TU/KSA.2/10/2020 pada 22 Oktober 2020," ujar Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno dalam rilis persnya.

Ia menyampaian selamat kepada PT WSI dan berharap lumba-lumba yang ada di captive/lembaga konservasi dapat terus lestari, begitu pula dengan lumba-lumba yang ada di lautan lepas.

Soal pemilihan nama, Wiratno menuturkan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya sengaja memberikan nama Sri Kurnia kepada bayi lumba – lumba betina koleksi TS PT WSI itu.

Harapannya, kata Wiratno, semoga Taman Satwa PT WSI semakin baik, maju dan sukses dalam pengelolaan satwa serta dapat terus berpartisipasi dalam upaya konservasi satwa di Indonesia.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra Exploitasia mengapresiasi upaya PT WSI dalam melaksanakan fungsinya sebagai lembaga konservasi yang melakukan breeding terkontrol.

"Yang artinya mendukung pelestarian TSL dilindungi melalui program peningkatan populasi ex-situ dengan tetap memperhatikan kemurnian genetik. Sehingga diharapkan ex-situ link to in-situ dapat diimplementasikan untuk mendukung populasi di alam (in-situ)," kata Indra.

Kepala BKSDA Jawa Tengah Darmanto mengtakan, kajian sarana prasarana kolam, nutrisi, dan mikroklimat yang sesuai untuk mendukung proses breeding merupakan tantangan bagi PT WSI, mengingat tingkat keberhasilan breeding dan tingkat keberhasilan hidup bayi lumba-lumba di kolam buatan yang masih rendah.

Untuk diketahui, lumba-lumba termasuk dalam daftar merah IUCN yang memiliki status konservasi Near Threatened (hampir terancam) dan termasuk dalam daftar Appendiks II CITES dimana pemanfaatannya diatur sedemikian rupa dan harus dalam pengawasan yang ketat.

Sementara, PT WSI merupakan lembaga konservasi yang berlokasi di Pantai Cahaya Kabupaten Kendal dan telah memiliki izin lembaga konservasi dengan No.SK.665/Menhut-II/2011 tanggal 24 November 2011.

Lembaga ini dibangun sebagai tempat konservasi tumbuhan dan satwa liar di luar habitatnya (ex-situ) yang memiliki fungsi utama sebagai tempat pengembangbiakan terkontrol dan/atau penyelamatan tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya guna menjamin kelestarian, keberadaan dan pemanfaatanya.

Selain itu juga sebagai tempat pendidikan, peragaan, penitipan sementara, sumber indukan dan cadangan genetik untuk mendukung populasi in-situ, sarana rekreasi yang sehat dan penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan.

Saat ini Taman Satwa PT WSI memiliki koleksi sebanyak 22 ekor lumba-lumba dengan jenis kelamin 12 ekor jantan dan 9 ekor betina yang telah berhasil berkembang biak. Selain lumba-lumba, PT WSI juga memiliki koleksi satwa jenis lainnya yaitu kakatua jambul kuning, beruang madu, linsang dan lainnya. (H-2)

BERITA TERKAIT