17 November 2020, 03:55 WIB

Komnas Perempuan Kritik Data Kasus Kekerasan pada Perempuan


(Van/Ata/H-2 | Humaniora

KOMISI Nasional (Komnas) Perempuan mengkritik minimnya laporan kasus kekerasan terhadap perempuan yang dimiliki Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA). Sebab, pada kenyataannya, kasus yang terjadi lebih banyak.

Komisioner Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor mengatakan, selama Februari-Juni 2020 Kementerian PP-PA mencatat 499 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 319 kasus KDRT.

"Ada penurunan laju pertambahan dari 17 kasus kekerasan terhadap perempuan per hari menjadi 5 kasus per hari. Kasus KDRT dari 10 kasus per hari menjadi 3 kasus per hari," ungkapnya saat meluncurkan hasil kajian Komnas Perempuan bersama Lemhannas secara virtual, kemarin.

Sementara itu, imbuh Maria, lembaga lain termasuk Komnas Perempuan mendapatkan data peningkatan kasus kekerasan perempuan sejak Januari hingga September 2020.

Komnas Perempuan mencatat adanya 1.339 kasus kekerasan terhadap perempuan. Hal itu mendekati kasus pada 2019 sebelum pandemi yang berjumlah 1.419. "Kurang dari 10% perempuan yang berani melaporkan kasus yang dialaminya," kata Maria.

Menurut dia, rendahnya angka pelaporan yang tercatat dalam data Kementerian PP-PA disebabkan berbagai aturan penanganan pandemi yang membatasi akses pelaporan.

Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI Reni Mayerni mengingatkan, kasus kekerasan perempuan yang tinggi di masa pandemi berpengaruh pada kerawanan pertahanan nasional.

Dalam kesempatan terpisah, aktivis perempuan Valentina Sagala menyatakan peningkatan kasus kekerasan terhadap kaum hawa mestinya segera direspons dengan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS). Koordinator Seknas Forum Pengada Layanan Vani Siregar menimpali bahwa korban kekerasan seksual sampai saat ini sulit mendapatkan akses keadilan karena berbagai kendala dalam sistem hukum. (Van/Ata/H-2

BERITA TERKAIT