11 November 2020, 08:13 WIB

Pancing Interaksi dengan Gambar Menarik di APD


Putri Anisa Yuliani | Humaniora

INTERAKSI menjadi salah satu kunci penting antara pasien dan dokter yang tidak bisa ditinggalkan Debryna Dewi Lumanauw. Perempuan yang sempat bergabung dalam relawan dokter covid-19 di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran ini memiliki cara unik bersama tim medis lainnya agar bisa memancing komunikasi dengan pasien.

Ia mengamini penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seakan membuat sekat antara pasien dan dokter, apalagi ditambah penggunaan masker, googles hingga tambahan face shield. Nyaris, ekspresi yang hendak dikeluarkan ataupun sapaan yang hendak disampaikan tak bisa dirasakan pasien.

Dokter Dewi pun memiliki pengalaman ketika menggunakan APD lengkap, seorang anak kecil sontak takut melihatnya. Ia paham hal tersebut seperti menjadi momok lantaran anggota keluarga anak tersebut kerap diambil darah oleh tenaga medis dengan APD lengkap.

Untuk itu, ia memiliki cara tersendiri untuk tetap dapat akrab dengan pasien sembari menjalin kedekatan sehingga pasien merasa nyaman dan tidak stres saat diisolasi.

"Kami teman-teman dokter dan perawat sering membuat gambar lucu di seragam APD. Ada salah satu tenaga medis yang jago gambar dan biasanya kami sudah antre," cerita dokter Dewi di program IG Live Media Indonesia Nunggu Sunset bertema Pahlawan di Masa Wabah, Selasa (10/11).

Baca juga: Debryna Dewi Lumanauw Dokter yang Gemar Merawat Ragi

Bukan hanya gambar lucu, ia pun menuliskan nama di seragam APD agar pasien tahu sehingga bisa berkomunikasi. Sehingga pasien merasa kenal dan akrab lalu merasa nyaman, sehingga mental mereka pun kembali bangkit.

"Setelah saya tulis nama, begitu ketemu dengan pasien lalu dia bilang, 'dok kemarin kan kita ketemu', ahh senang sekali rasanya. Itu yang hilang dari perjalanan saya selama menjadi dokter," tutur dokter yang juga gemar membuat sourdough ini.

Dewi pun mengakui ada masa adaptasi ketika dirinya bergabung dalam situasi gawat darurat. Sehingga dirinya banyak sekali mendapatkan pelajaran berharga. Paling sederhana saja, Dewi mengaku baru tahu rasa dan cara menggunakan APD.

"Pas kuliah kan tidak diajari memakai APD mungkin karena dosen pada waktu itu tidak kepikiran juga akan ada pandemi. Jadi memakai APD seperti itu juga pengalaman baru bagi saya. Berada di Wisma Atlet juga ya pasti ada masa adaptasi. Ibaratnya kita harus masak tapi di dapur milik orang lain pasti kan beda," pungkasnya.

Bagi Dewi, siapapun bisa menjadi pahlawan bukan hanya dokter atau relawan. Mereka yang tetap di rumah saja, mereka yang menunda untuk pulang kampung dan menahan rindu dengan keluarga juga pahlawan karena ikut serta mencegah penyebaran covid-19.(OL-5)

BERITA TERKAIT