11 November 2020, 02:50 WIB

Semua Orang Bisa Jadi Pahlawan


Gana Buana | Humaniora

SETIAP orang punya potensi menjadi pahlawan, baik bagi dirinya sendiri, orang lain, maupun bagi negaranya. Terkadang pahlawan itu sebetulnya hadir di tengah kita, tetapi banyak yang tidak menyadari keberadaannya.

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan mengatakan, pahlawan sejatinya adalah niat tulus ikhlas untuk berkorban demi bangsa dan negara. Pahlawan juga merupakan semangat (spirit) dan pengorbanan untuk melakukan perubahan dan kebaikan bangsa dan negara.

“Sehingga, manakala tiga nilai tersebut menyatu bukan hanya para unsur negara (TNI, Polri, dan PNS) yang berhak dianggap sebagai pahlawan. Semua orang berhak dianggap sebagai pahlawan selama mereka memiliki ketiga unsur tersebut,” ungkap Cecep saat dihubungi, kemarin.

Cecep menjelaskan, aksi kepahlawanan seyogianya dilakukan secara berkelanjutan tanpa perlu menunggu panggilan hati nurani. Di mana ada ketidakadilan, di situ mereka ikut membantu tanpa perlu diminta, mengharapkan sesuatu (pamrih), atau bahkan diliput.

“Di era milenial ini contohnya sudah banyak di media sosial. Banyak selebgram misalnya menyuarakan suara kebenaran, upaya memerangi hoaks, menolak hal yang bisa memecah persatuan kesatuan bangsa. Melawan bentuk provokasi ini juga bagian dari tindakan kepahlawanan,” jelas dia.

Saat ini, menurut Cecep, spektrum kepahlawanan semakin luas. Baik itu pahlawan kebudayaan, pahlawan ekonomi, pahlawan kesehatan, pendidikan, maupun lingkungan. Tentunya, hal ini tidak bisa terbentuk tanpa adanya pendidikan, baik formal maupun informal.

Peran keluarga merupakaan pendidikan informal penting yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan formal di sekolah. Tentunya, peran masyarakat di lingkungan sekitar tidak kalah penting.

“Pemerintah makanya perlu memasukkan unsur pembentukan karakter dalam pendidikan formal juga di sekolah,” lanjut dia.

Di masa pandemi covid-19 saat ini tak sedikit pahlawan bermunculan. Mereka datang dari berbagai unsur, mulai masyarakat biasa, tenaga medis, artis, hingga selebgram.

Contohnya pendiri Sekolah Kolong Cikini (Seko.Ci) yang kini sudah menjadi sebuah Yayasan Sekolah Cinta Anak, Ajeng Satiti Ayuningtyas. Sejak 5 tahun lalu, Ajeng bersama dengan teman-teman satu universitasnya mendirikan sekolah informal yang terletak di kolong Stasiun Cikini, Jakarta Pusat.

Saat ini, dengan memanfaatkan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Gondangdia, puluhan anak muda meluangkan waktu mereka setiap Minggu sore untuk mengajar anak-anak dari kelompok marginal yang ada di kawasan Menteng, Jakpus. Bemacam kegiatan edukasi dilakukan yang diharapkan juga bisa membentuk etika kesantunan dan budi pekerti serta menanamkan rasa cinta Tanah Air.


Peduli anak jalanan

Seko.Ci bermula ketika sang penggagas, Ajeng Satiti Ayuningtyas, merasa prihatin mendengar anak-anak tersebut melontarkan kata atau kalimat kasar. Keprihatinan itu memantik ide untuk membuat sekolah, setidaknya agar mereka bisa bersikap lebih sopan.

“Awal ada Seko.Ci, yang datang cuma 2–3 orang. Sampai akhirnya kita buat sesuatu yang menarik supaya mereka tertarik untuk belajar. Makin ke sini makin banyak,” kata Ajeng.

Kini, setiap Minggu sebelum masa pandemi rata-rata sekitar 24 anak-anak berusia 3–16 tahun datang untuk belajar. Anak-anak yang mengikuti kegiatan tersebut mayoritas bekerja di sekitar kawasan Menteng menjadi pemulung, pengamen, dan penjual tisu.

Seko.Ci memiliki dua program yang disebut Mendarat dan Berlayar. Mendarat merupakan kegiatan yang dilakukan berupa mendongeng, bernyanyi, belajar membaca dan menulis, menggambar dan mewarnai, hingga mengajak mereka bercerita tentang hal-hal yang telah dipelajari. Sementara itu Berlayar merupakan program ‘jalan-jalan’ keluar seperti ke museum, tempat wisata, atau arena bermain.

“Harapannya, agar mereka juga busa melakukan apa yang anak-anak lain seusia mereka,” laniut Ajeng.

Selama masa pandemi, Seko.Ci pun tetap melakukan pembelajaran secara daring. Mereka hanya mengandalkan aplikasi Whatsapp dengan hanya beberapa siswa didik yang mampu mengikuti.

“Karena kan enggak semua punya handphone, tapi mereka antusias kalau diajarkan meski dengan jarak jauh,” jelas dia.

Menurut Ajeng, kesulitan di sini lebih pada bagaimana membuat anak-anak fokus. Mereka sebenarnya mau belajar, tapi bukan seperti yang didapat di sekolah formal.

“Sebetulnya kita sudah mau buka cabang di dekat Bandara Soekarno-Hatta tapi karena pandemi jadi kita tunda dulu,” lanjut dia.

 

Positif bermedsos

Selain itu, Karin Novilda atau yang lebih dikenal dengan Awkarin yang merupakan salah seorang influencer asal Indonesia yang sangat populer, kerap mencuri perhatian lewat berbagai kegiatan yang ia unggah di medsos, seperti Instagram, Twittter, maupun Youtube.

Di awal kepopulerannya sebagai selebgram, Awkarin sering membuat kontroversi. Namun belakangan, Awkarin menunjukkan sisi lain dari dirinya. Hingga kini, ia dikenal sebagai sosok selebgram yang memiliki rasa sosial tinggi.

Awkarin kerap melakukan aksi kemanusiaan. Di antaranya, jadi relawan gempa Palu, membagikan nasi kotak untuk para mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menolak RKUHP di Jakarta, donasi untuk korban kebakaran hutan hingga ikut memadamkan hutan di Palangka Raya.

Baru-baru ini, perempuan yang lahir pada 29 November 1997 itu membagikan potret aksi sosialnya membantu melawan wabah covid-19 di Indonesia. Aksi tersebut, ia lakukan bersama teman-temannya dan bekerja sama dengan salah satu lembaga kemanusiaan.

Ia dan para relawan lainnya melakukan penyemprotan disinfektan di beberapa tempat umum, seperti rumah ibadah hingga gang-gang sempit. Aksinya pun menuai banyak pujian dari warganet.

“Makanya aku mau ngajak kamu donasi buat ngasih alat perlindungan diri kayak masker, hand sanitizer, dan lainlain buat tenaga kesehatan di rumah sakit. Alat perlindungan diri ini juga bisa digunakan untuk keluarga tenaga kesehatan yang setiap hari berinteraksi dengan mereka,” ujarnya melalui IG stories. (Gan/S-2)

 

BERITA TERKAIT