07 November 2020, 08:00 WIB

Internet Jangkau Ujung Utara Kalimantan


mediaindonesia.com | Humaniora

 

TIM Ekspedisi Bakti untuk Negeri, program kerja sama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Media Group News (Metro TV), kali ini menjelajah Kalimantan Utara. Di provinsi termuda di Indonesia ini, tim merasakan konektivitas internet sudah baik hingga ke perbatasan.

Wilayah pertama yang disinggahi ialah Tanjung Se­lor di Kabupaten Bulungan. Sebagai ibu kota Kalimantan Utara, Tanjung Selor menjadi pusat pemerintahan sekaligus denyut nadi perekonomian, salah satunya di Pasar Induk Tanjung Selor.

Di tempat ini, dukungan telekomunikasi yang baik, khususnya internet, berperan penting bagi kemajuan ekonomi masyarakat. Hal ini dirasakan Fania, seorang mahasiswa yang membantu sang ibu berdagang sayur secara online melalui Facebook, Whatsapp, dan Instag­ram.

Meski berjualan di pasar, Fania mengaku pembelinya lebih banyak memesan via daring terlebih di masa pandemi covid-19. “Awalnya sehari dapat Rp200 ribu-Rp400 ribu. Sekarang bisa sampai Rp2 juta-Rp3 juta,” aku Fania.

Secara umum, kondisi ja­ringan internet di Kabupaten Bulungan sudah cukup baik. Namun, topografi daerah yang berbukit di sana juga masih menyisakan titik-titik hampa (blank spot).

Untuk itu, Kementerian Kominfo melalui Bakti masih akan membangun jaringan telekomunikasi dan informasi di wilayah tersebut. “Kita sudah mendapat alokasi 23 titik untuk wilayah Bulu­ngan. Kita sudah membuat skala-skala prioritas,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bulungan HM Zulkifli.

Di Desa Gunung Seriang, Bulungan, yang memiliki waktu tempuh 30 menit dari pusat kota Tanjung Selor, jaringan internet sudah masuk sejak dua tahun terakhir. Kepala Desa Gunung Seriang, Hermansyah, mengatakan bahwa masuknya internet bermanfaat banyak di desanya.

Antara lain untuk fasilitas kantor seperti pengiriman data online hingga pemanfaatan belajar jarak jauh bagi anak-anak sekolah saat pandemi covid-19.

“Sekarang ini di kantor segala sesuatu pelaporan pasti menggunakan sistem aplikasi berbasis data online. Dengan adanya program Bakti Aksi ini, kita pemerintah desa, khususnya masyarakat di sini sangat terbantu,” katanya.

“Sebelum Bakti Aksi masuk di desa ini, masyarakat sini juga pemerintah desa harus mencari spot-spot jaringan internet sampai naik ke gunung atau ke tepi sungai. Sekarang segala sesuatu laporan di pemerintah desa sangat terbantu dan tidak lagi mesti manjat ke tempat-tempat tinggi,” imbuhnya.

Dari Tanjung Selor, tim bergerak ke arah utara, tepatnya ke Desa Pulau Sapi, Kabupaten Malinau. Dengan suasana yang asri dan rumah-rumah khas yang dihias seni lukis motif dayak, Desa Pulau Sapi juga dijadikan destinasi wisata.

Karena itu, adanya akses internet sangat memudahkan masyarakat untuk memasarkan desa wisata mereka di media sosial.

Tujuan selanjutnya ialah Pulau Sebatik yang merupakan garis terluar Kaltara. Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Pulau Sebatik tak lepas dari berbagai isu seperti pergeseran patok batas negara, penyelundupan miras dan narkotika, dan tingkat kesejahteraan warganya.

Namun di sini, telekomunikasi bukan salah satu dari masalah.

Menurut Gubernur Kaltara Irianto Lambrie, dari 434 desa di wilayahnya, hanya ada 13 desa yang belum terjangkau jaringan seluler.

“Dari 4 kabupaten dan 1 kota di Kalimantan Utara (jaringan telekomunikasi) sudah bagus sebenarnya. Jadi pengeluaran masyarakat Kaltara untuk kepentingan telekomunikasi terbesar kedua setelah transportasi dan itu menyumbang nilai inflasi kedua tertinggi di Kaltara,” ungkapnya. (Ifa/S2-25)

BERITA TERKAIT