06 November 2020, 01:52 WIB

Kemenag; Pelajar Meninggal di Tarakan Bukan Dampak PJJ


Syarief Oebaidillah | Humaniora

MENINGGALNYA pelajar siswa Madrasah Tsanawiyah ( Mts) di Tarakan, Kalimantan Timur belum lama ini mengejutkan kalangan pendidikan. Diduga pelajar bersangkutan melakukan aksi bunuh diri akibat tekanan pembelajaran jarak jauh ( PJJ) di tengah pandemi covid-19.

Terkait itu, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK )Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Ahmad Umar mengatakan, mengacu pada surat pernyataan pihak madrasah dan orang tua siswa bahwa bunuh diri siswa terjadi lebih karena masalah internal keluarga, bukan tekanan belajar.

"Memang betul ada pelajar madrasah yang meninggal di Tarakan tetapi kasusnya tidak terkait tekanan belajar pada PJJ , "ungkap Ahmad Umar menjawab Media Indonesia.

Ahmad Umar merujuk surat pernyataan antara orang tua siswa Tati Hariati dan Kepala Mts Alkhairaat Tarakan ,Mahmud Shaleh tertanggal 28 Oktober 2020.

Berdasarkan informasi pihak madrasah dari orang tua siswa sebelum kejadian, telepon genggam siswa disita orang tua karena siswa selalu bermain HP dan menonton animasi serta bermain gim daring game hingga dini hari.

"Orang tua memberikan nasehat kepada anaknya jika tidak berubah perilakunya akan meninggalkan pulang kampung, kemudian ibu dan adik-adiknya pergi ke rumah kerabatnya setelah menasehati. Menurut pernyataan ibunya bahwa anaknya sering masuk kamar mandi dengan waktu yang cukup lama sehingga tidak menimbulkan kecurigaan keluarga sampai terjadi siswa melakukan aksi bunuh diri tersebut, " ungkap Umar.

Baca juga : SMP-SMA LabSchool Cirendeu Bakal segera Beroperasi

Sedangkan pihak madrasah Alkhairaat, dalam surat tersebut, Mahmud Sholeh menjelaskan selama ini cukup fleksibel dengan memperhatikan beberapa hal dalam PJJ diantaranya pembelajaran online hanya dilakukan lewat whatsApp dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi.

Pengumpulan tugas secara fleksibel tidak sesuai waktu yang ditentukan,juga dilakukan kunjungan atau home Visit pihak madrasah untuk mencari solusi kendala belajar siswa, dan silaturrahim guru dan orang tua siswa, bukan untuk melakukan penekanan pembelajaran siswa.

Madrasah juga melakukan pembelajaran tatap muka bagi siswa yang tidak memiliki smartphone dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan.

Lebih lanjut Ahmad Umar menjelaskam secara umum PJJ madrasah berjalan baik denga diikuti 2 juta siswa melalui sistem e learning madrasah bagi 22 ribu madrasah .Pihaknya masih terus melakukan pemantauan perkembangan PJJ dilapangan..

"Memang khusus madrasah hingga kini karena pandemi masih belum melalukan luring atau tatap muka, " pungkas Umar.(OL-7)

BERITA TERKAIT