05 November 2020, 07:00 WIB

Merdeka Belajar, Ini 3 Terobosan Pendanaan Perguruan Tinggi


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru saja meluncurkan program Merdeka Belajar episode keenam terkait transformasi pendanaan pemerintah untuk pendidikan tinggi. Kebijakan ini merupakan upaya Kemendikbud untuk mendongkrak mutu pendidikan tinggi.

Terdapat tiga transformasi pendanaan baru untuk PTN dan PTS dalam kebijakan ini, yaitu tambahan dana atau insentif kinerja, matching fund, dan competitive fund.

Dalam penjelasannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menyampaikan, tiga terobosan itu merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar episode keenam.
 
Insentif kinerja akan didasarkan capaian Indikator Kinerja Utama (untuk PTN) yang didasarkan pada capaian delapan Indikator Kinerja Utama (IKU). Total bonus yang disediakan mencapai Rp500 miliar.

Lalu, dana penyeimbang (matching fund) diberikan untuk kerja sama yang dilakukan PTN dan perguruan tinggi swasta (PTS) dengan mitra melalui platform Kedaireka.id. Total dana matching fund yang disediakan adalah Rp250 miliar.

Sementara, competitive fund dengan dana tersedia Rp500 miliar akan diberikan dalam Program Kompetisi Kampus Merdeka (competitive fund) untuk PTN dan PTS.
 
"Ini merupakan pertama kalinya insentif kinerja akan disediakan bagi PTN," kata Nadiem, awal pekan ini.

PTN yang berhasil meningkatkan IKU atau mencapai target akan diberikan bonus pendanaan. Sebelumnya, perguruan tinggi hanya mendapatkan dana alokasi dasar dan dana afirmasi, khusus bagi perguruan tinggi yang tertinggal.

Selain alokasi dasar meningkat Rp800 miliar, pendanaan pendidikan tinggi pada 2021 mendatang akan ditambah insentif yang berdasarkan capaian IKU. Kemendikbud, sebut Nadiem, akan menyediakan bonus Rp500 miliar bagi PTN yang berhasil meningkatkan capaian IKU terbanyak dan mencapai target yang ditetapkan Kemendikbud.

Dari ketiga terobosan itu, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mochamad Ashari mengaku, matching fund atau dana penyeimbang adalah metode atau skema mereka nantikan. "Betul-betul kami tunggu,” ujar Ashari, saat peluncuran Merdeka Belajar Episode ke-6, Selasa (3/11).

Menurutnya, selama ini perguruan tinggi mengalami kesulitan dalam menghilirisasi produk inovasi. Kesulitan yang dialami perguruan tinggi yaitu pada saat prototyping commercial, sertifikasi, dan regulasi.

“Dengan matching fund program Mas Menteri di Kemendikbud saya yakin akan banyak memudahkan perguruan tinggi untuk mengambil mitra, bersama-sama menuju masa depan membawa anak-anak kita dengan teknologi terbaru sampai hilir dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” pungkasnya. (H-2)

 

BERITA TERKAIT