04 November 2020, 13:52 WIB

Siapakah Pencetus Peringatan Maulid Nabi Muhammad?


Wisnu Arto Subari | Humaniora

KITA berada dalam bulan Rabiul Awal sekarang. Biasanya, umat Islam di mana pun berada menggelar peringatan maulid atau kelahiran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada bulan ini. Akan tetapi, setiap kedatangan bulan maulid Nabi selalu muncul pertanyaan pencetus atau orang yang pertama kali mengadakan maulid Nabi.

Ada beragam versi terkait awal mula peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Sebagian berpendapat peringatan tersebut dilakukan pertama kali saat dinasti Fathimiyah berkuasa. Yang lain bilang Salahudin Al Ayyubi yang perdana memulainya.

Karena itu, pendapat lain menilai peringatan maulid Nabi itu termasuk bidah sesat karena tidak pernah dilakukan Nabi, para sahabat, atau generasi salaf yang saleh. Benarkah demikian? Tulisan ini mencoba merangkum berbagai pendapat terkait pencetus peringatan maulid Nabi pertama kali agar gambarannya semakin jelas.  

Sebelum ke sana, tampaknya kita perlu memahami perbedaan pengertian antara peringatan dengan perayaaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, peringatan bermakna nasihat (teguran dan sebagainya) untuk memperingatkan, kenang-kenangan, sesuatu yang dipakai untuk memperingati, catatan, ingatan, atau hal memperingati. Perayaan memiliki arti pesta (keramaian dan sebagainya) untuk merayakan suatu peristiwa. Intinya, ada perbedaan antara peringatan dengan perayaan. Baiklah, kita mulai memaparkan berbagai pendapat tentang asal mula peringatan maulid Nabi.

Nabi Muhammad saw

Sejumlah pendapat mengatakan bahwa peringatan maulid sudah dilakukan oleh Nabi Muhammad. Ini membantah pendapat bahwa peringatan maulid tidak pernah dilakukan Nabi. Mengutip dari NU Online, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Muhammad Habib Mustofa, menerangkan bahwa bila yang dimaksud dengan memperingati secara mutlak, tanpa membatasi ekspresinya, Rasulullah telah mempraktikkannya. “Beliau ialah orang pertama yang memperingati hari kelahirannya,” ujarnya.

Nabi Muhammad mengagungkan hari kelahirannya dengan melakukan puasa. Dalilnya, “Dari Abu Qatadah ra, sesungguhnya Rasulullah telah ditanya perihal puasa pada Senin, beliau bersabda, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan.” (HR Muslim).

Dari pendapat itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad senantiasa memperingati hari lahirnya yaitu Senin. Ustaz Abdul Shomad dalam salah satu videonya menyatakan peringatan tersebut bahkan dilakukan beliau setiap minggu sekali, bukan tiap tahun sekali. Hanya, peringatan itu dilakukan beliau sendiri tanpa ada perayaan yang bersifat besar dan meriah dengan melibatkan pihak lain.

Para Sahabat Nabi

Sebagian pendapat lain mengatakan bahwa para sahabat juga selalu menghargai hari kelahiran Nabi Muhammad. Mereka berargumentasi dengan kisah yang terkenal saat menetapkan tahun Hijriyah. Ketika itu, para sahabat yang dipimpin Khalifah Umar bin Khattab menyampaikan beberapa peristiwa yang dianggap penting.

Sebagian sahabat mengusulkan kelahiran Nabi layak menjadi awal tahun sebagai peringatan. Imam al-Sakhawi dalam Al-I'lan bi al-Taubikh li Man Dzamma al-Tarikh menjelaskan, saat itu ada empat usulan yang mungkin untuk dijadikan acuan penanggalan Islam, yaitu kelahiran Nabi, waktu diutus, hijrah, dan waktu kewafatannya. Para sahabat akhirnya memenangkan pendapat waktu hijrah sebagai awal tahun Hijriyah.

Mengapa kelahiran Nabi Muhammad tidak dipilih para sahabat? Pertimbangannya, tahun kelahiran dan waktu diutusnya Nabi terdapat perselisihan di antara sejarawan. Dari sini dapat disimpulkan para sahabat selalu memperingati kemuliaan Nabi dengan waktu kelahirannya. Seandainya hal tersebut diterima Umar bin Khattab berarti peringatan Tahun Baru Islam sama dengan memperingati maulid Nabi.

Khaizuran

Pendapat lain disampaikan Ahmad Tsauri dalam bukunya berjudul Sejarah Maulid Nabi (2015). Ia menjelaskan bahwa perayaan maulid Nabi sudah dilakukan oleh masyarakat muslim sejak tahun kedua Hijriah.

Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa. Disebutlah Khaizuran atau Jurasyiyah binti 'Atha (170 H/786 M) sebagai istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas sekaligus ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid. Dengan kekuasaan tersebut, ia datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Mekkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Mekkah untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Makkah untuk merayakan maulid di rumah-rumah mereka. Jika demikian, berarti itulah awal perayaan dalam peringatan maulid Nabi yang digelar umat Islam pada masa Daulah Abbasiyah.

Al-Muiz Lidinillah

Selanjutnya pendapat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Menurutnya, maulid Nabi diadakan kalangan syiah bernama Abu Tamim Maad Al-Muizz Lidinillah. “Al-Muiz yang membangun Kota Kairo dan Al-Azhar,” katanya seperti dikutip dari NU online. Ia merupakan khalifah keempat Dinasti Fatimiyah (341-365 H/952-975 M).

Pendapat Said Aqil sejalan dengan ahli sejarah Al-Maqrizy bahwa perayaan maulid Nabi dimulai ketika zaman Daulah Fatimiyah yang beraliran syiah berkuasa di Mesir. Bukan hanya maulid Nabi, mereka juga merayakan maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Fatimah binti Ali, maulid Hasan bin Ali, dan maulid Husain bin Ali.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang membidangi Tarjih, Dr Syamsuddin, menceritakan bahwa Al-Maqrizi dalam kitab Mawa’iz al-I’tibar fi Khitat Misr wa al-Amsar banyak mengutip data-data dari karya Jamaluddin Ibn al-Ma’mun (wafat 517 H/1123 M) terkait asal usul perayaan maulid di dunia Islam. “Dari deskripsi al-Maqrizi, dapat dimengerti bahwa asal-usul maulid yaitu perayaan keagamaan yang diselenggarakan oleh dinasti Fatimiyah di Mesir yang beraliran Syi’ah Ismailiyah pada abad ke-5 H/11 M,” jelas Syamsuddin seperti dikutip dari pwmu.co.

Menurutnya, naskah tertua tentang perayaan maulid berasal dari karya al-Ma’mun itu. Dialah putra al-Ma’mun Ibn Bata’ihi yang pernah menduduki jabatan perdana menteri di istana khalifah Dinasti Fatimiyah.

Perayaan maulid Nabi saat itu dirayakan tiap 13 Rabiul Awal. Al-Maqrizi menceritakan bahwa pada hari tersebut, khalifah berkenan merayakan kelahiran Nabi akhir zaman dengan membagikan uang sebanyak 6.000 dirham, 40 piring kue, gula-gula, karamel, madu, dan minyak wijen. “Dalam praktiknya, ada ceramah agama, pembacaan ayat suci al-Qur’an, serta hadiah-hadiah untuk tokoh dan masyarakat secara umum,” tambah dosen UIN Sunan Ampel Surabaya itu.

Malik (Raja) Muzhaffar

Selain itu, ada pendapat lain dari sejumlah ulama ternama. Sebut saja, Jalaluddin al-Suyuthi dalam Al-Hawi li al-Fatawi menyebutkan bahwa orang yang pertama kali mengadakan maulid Nabi ialah penguasa Irbil di wilayah Irak bernama Raja Muzhaffar Abu Sa’id al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin (549-630 H). Ia disebut sebagai seorang raja yang mulia, luhur, dan pemurah. Beliau merayakan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awwal dengan perayaan yang meriah.

Begitu pun Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah menilai bahwa Raja Muzhaffar termasuk penguasa yang alim dan adil serta memiliki banyak peninggalan yang baik. Di antara peninggalan baiknya yaitu maulid al-Syarif (perayaan maulid yang mulia) setiap Rabi’ul Awwal.

Ditambahkan al-Bakri bin Muhammad Syatho dalam I`anah at-Thalibin, peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. Mereka membaca Al-Qur’an, mendaras sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantunkan salawat dan syair-syair kepada Nabi Muhammad, serta diisi pula dengan ceramah agama.

Salahudin Al Ayubi

Pendapat lain lagi disebutkan mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Menurutnya, Salahudin Al Ayubi merupakan Sultan Mesir dan Suriah sekaligus muslim pertama yang menyelenggarakan maulid Nabi. Sultan Salahudin Al Ayubi yang juga pendiri Dinasti Ayubiyah di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekah Hejaz, dan Diyar Bakr itu menyelenggarakan maulid untuk menyemangati kaum muslimin yang tengah berperang melawan pasukan Kristen dalam Perang Salib.

AM Waskito dalam bukunya berjudul Pro dan Kontra Maulid Nabi (2014) menjelaskan bahwa Raja Muzhaffar dan Salahuddin Al Ayubi hidup di masa yang sama. Ternyata mereka berdua memiliki hubungan kekerabatan yaitu saudara ipar.

Salahuddin Al Ayubi memiliki saudara perempuan yang bernama Rabiah Khatun binti Ayub yang dinikahkan dengan saudara laki-laki dari Muzhaffar. Melihat efektivitas peringatan maulid bagi semangat jihad masyarakat Mesir, besar kemungkinan Muzhaffar Abu Sa’id ingin mengadaptasikan kegiatan tersebut di daerahnya.

Jadi, siapa yang pertama kali mengadakan maulid Nabi? Apakah salah satu dari nama yang disebutkan di atas atau semua benar? Kalau melihat waktu mereka hidup, tampaknya ada rangkaian peringatan atau perayaan maulid Nabi alias tidak berdiri sendiri. Ustaz Abdul Shomad dan beberapa ulama lain lebih memilih Muzhaffar karena lebih kuat riwayatnya. Alasannya, riwayat tersebut disampaikan Assuyuthi dan Ibnu Katsir yang dipercaya sebagai ulama besar dan hafizh atau hafal 100 ribu hadits. (OL-14)

BERITA TERKAIT