16 September 2020, 05:50 WIB

Batasi Paparan Gawai sebelum Kecanduan


ATALYA PUSPA | Humaniora

SUDAH pukul satu dini hari, tetapi mata Sari, 25, tidak juga bisa terpejam meskipun ia sudah merasa lelah yang sangat. Sejak pukul 21.00 WIB, matanya terus saja menatap layar telepon pintar (smartphone) di tangannya. Awalnya cuma mencari informasi terkini tentang covid-19, lalu mengecek update terbaru di media sosialnya dan akhirnya malah larut menonton film hingga berseri-seri. Episode yang panjang membuat ia terus saja penasaran dan tak mau ketinggalan setiap episode barunya.

"Ini hiburan saya selama pandemi covid-19. Kan kita enggak bisa ke mana-mana, ya. Apalagi anak kos seperti saya ini," tuturnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Sejak pemerintah membuat kebijakan pembatasan sosial berskala besar di era pandemi covid-19, internet menjadi bagian penting dalam aktivitas masyarakat. Bak pisau bermata dua, internet menjadi sumber hiburan murah dan mudah, tapi juga menimbulkan perilaku adiksi (kecanduan).

Hasil studi berbasis web yang dilakukan oleh sejumlah staf Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM dan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya terhadap 4.734 responden dari seluruh provinsi di Indonesia menemukan sinyal bahaya adiksi internet tersebut.

Studi yang telah dirilis di jurnal internasional Frontiers in Psychiatry pada 3 September 2020 itu menemukan, prevalensi populasi dewasa Indonesia yang mengalami adiksi internet selama masa pandemi covid-19 meningkat hingga 14,4% dari yang sebelumnya hanya 3%. Selain itu, durasi online juga meningkat sebesar 52% jika dibandingkan dengan sebelum pandemi.

Salah satu peneliti, Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa RSCM FK Universitas Indonesia, Kristina Siste Kurniasanti, menyatakan situasi ini patut diwaspadai karena penggunaan internet berlebih dapat memperberat rasa cemas, depresi, dan mendorong perilaku kompulsi yang akhirnya semakin memperparah adiksi internet.

"Salah satu faktor prediktif yang menyebabkan perilaku adiksi internet di masa pandemi ialah dorongan untuk mencari informasi terkait penyakit covid-19," kata Siste dalam keterangan yang diterima Media Indonesia, kemarin.

Namun, Siste mengatakan bahwa adiksi internet juga berhubungan dengan penurunan waktu dan kualitas tidur yang menyebabkan gangguan psikologis serta penurunan sistem kekebalan tubuh.

"Karena itu, kami merekomendasikan Kementerian Kesehatan untuk membuat pedoman penggunaan internet sehat. Adakan pula duta internet sehat, agar bisa jadi role model bagi anak-anak," pungkasnya.

Dokter spesialis kedokteran jiwa Eva Suryani menyebutkan adiksi gawai memang belum masuk kriteria diagnosis gangguan jiwa berdasarkan WHO. "Namun, di ICD 11 sudah ada kategori diagnosis adiksi perilaku, yaitu adiksi gim," ungkapnya.

Saat ini pengobatan yang dilakukan yakni dengan psikoterapi CBT (cognitive behavior therapy) dikombinasi dengan terapi farmako jika ditemukan gangguan komorbiditas dengan depresi, kecemasan, atau gangguan jiwa lainnya. Selain itu, terapi aktivitas fisik atau olahraga bisa membantu mengurangi ketergantungan adiksi gim. Membatasi penggunaan gawai adalah keharusan.

Merusak otak

Mengutip dari Times of India, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Addictive Behavior Februari 2020 lalu menunjukkan adanya kerusakan otak pada orang dewasa yang mengalami adiksi gawai. Hal itu didapat dari pemindaian MRI pada otak 22 partisipan yang kecanduan ponsel pintar dan 26 orang yang tidak.

Kecanduan gawai ternyata memengaruhi jumlah 'materi abu-abu' di bagian otak tertentu, termasuk insula dan korteks temporal. Materi abu-abu merupakan lapisan terluar otak yang berperan penting dalam memori, perhatian, pikiran, bahasa, dan alam sadar. (H-2)

BERITA TERKAIT